Sabtu, 03 Februari 2018

Jaga Alam Dengan Sasi Lompa




Saat Ikan-Ikan Kembali Pulang




                Di sebuah pulau kecil, Haruku, Maluku Tengah, terdapat tradisi  untuk menjaga alamnya : sasi lompa. Acara tersebut di helat rutin tiap tahun. Biasanya pada Oktober atau November. Bergantung tanda-tanda alam.


                PERTENGAHAN Oktober lalu kepala kewang (ketua adat) Negeri Haruku Eliza Marthen Kissya sudah mengumumkan akan menghelat sasi lompa. Persiapan sudah di lakukan. Malamnya, pria yang akrab di sapa Eli itu tidak melihat ikan lompa datang ke hulu sungai Haruku. Akhirnya, sasi lompa di batalkan.

            Tepat seminggu kemudian, 22 Oktober, ikan yang hanya hidup di sekitar Haruku itu mulai banyak di hulu sungai yang berada tepat di samping rumah kewang. Dia pun akhirnya mengumumkan bahwa tiga hari kemudian sasi lompa di helat. Seluruh warga di minta untuk bersih-bersih.

            Pada 25 oktober, sekitar pukul 19.00, Eli keluar dengan pakaian kewang. Yakni baju lengan panjang dan celana hitam. Di lehernya ada halsduk berwarna merah. Selempang tenun berwarna merah juga menempel di tubuhnya.

            Saat itu dia akan mengawali  malam sasi lompa. “Nanti akan jalan mengelilingi kampung. Membacakan peraturan sasi lompa (saniri’a Lo’osi Aman Haru-ukui atau Saniri lengkap Negeri Haruku, Red),” katanya.

            Peraturan sasi lompa di bacakan bersama dengan para kewang lain, sekitar 12 0rang. Peraturan tersebut di bacakan di setiap sudut negeri sambil membawa daun kelapa kering yang di bakar. Acara itu selesai pada pukul 23.00.

            Pada pukul 03.00 para kewang berkumpul  di rumah kewang. Mereka makan bersama. Menu ikan bakar dan sayur-mayur di hidangkan. Alasnya daun kelapa. Untuk minum, air di wadahi bambu, gelasnya batok kelapa.

            Setelah itu, Eli menyalakan lagi daun kelapa kering. Langit Haruku menjadi terang. “Ini untuk menarik perhatian ikan lompa agar masuk ke hulu. Biar tahu jalan,” tutur pria 68 tahun tersebut. Proses bakar-bakar itu berlangsung sampai pukul 05.00, saat matahari mulai terbit.

            Selanjutnya, hulu sungai Haruku di bendung dengan kayu dan jaring. Ikan di biarkan berada di tengah sungai.

            Saatnya berpesta. Pada pukul 09.00, semua kewang masuk ke sungai, di susul seluruh warga. Ada yang membawa ember, kain, hingga jaring besar. Semua orang menjaring ikan. Ikan di kumpulkan.

            “Anak yatim dan janda dapat porsi banyak. Nanti ikan di keringkan dan bisa bisa di makn  beberapa bulan ke depan,” jelas pria kelahiran 12 maret 1949 tersebut.

            Sasi lompa di helat sejak 1600an. Berdasar cerita Eli, sasi lompa pada awalnya memang bertujuan melestarikan alam. “Sejak awal, ada peraturan untuk tidak boleh memetik buah yang masih kecil. Pohon yang ada buahnya juga tidak boleh di tebang,” ungkapnya.

            Sekarang peraturan di tambah dengan tidak boleh mandi atau mencuci di sungai dengan sabun. Itu di lakukan agar ikan lompa tidak punah.

            Sayang, event tahunan itu tidak mendapat perhatian dari pemerintah. “Tidak pernah ada yang datang,” ungkap Eli.

            Eli sebagi ketua kewang ingin melanjutkan acara tersebut. Dia hanya ingin Negeri Haruku tetap kaya dengan sumber daya alam hayati. (ferlynda putri/c11/dos)

SUMBER : JP Minggu 10 Desember 2017
Di Ketik Ulang Oleh : Lw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar