Jumat, 02 Februari 2018

Jejak Suku Bajo dalam Mewarnai Nusantara (2)


Karena Bahasa Adalah Identitas



Suku Bajo masih mempertahankan tradisi yang ada sejak zaman nenek moyang mereka. Termasuk soal bahasa.

LUAS Pulau Sapeken hanya sekitar 2 km persegi. Pulau itu dikelilingi 22 pulau yang berada di timur Pulau Madura. Selain nama desa, ia juga nama kecamatan.


Sapeken menjadi pemimpin bagi 22 pulau yang berada di sekelilingnya. Penduduk pulau itu berjumlah 2.600 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk Kecamata Sapeken mencapai 46.021 jiwa.

Sapeken jauh terpencil. Untuk ke sana, orang harus menghabiskan waktu berjqm-jam di atas laut. Dari Pelabuhan Batu Guluk, Sumenep, misalnya. Untuk sampai di Dermaga Sapeken, kita harus menyeberangi laut selama 12-14 jam.

Meski secara geografis Sapeken masuk pemerintahan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mayoritas penduduknya tidak mengerti bahasa Madura atau bahasa Jawa sebagai bahasa daerah orang Jawa Timur.

Bahasa sehari-hari mereka pun bukan dua bahasa itu. Alat komunikasi masyarakat Sapeken adalah bahasa Sama atau Same, bahasa suku Bajo. Bukan hanya itu, karakter budaya yang berkembang di masyarakat juga merupakan produk kebudayaan suku Bajo. Mulai rumah masyarakat yang sebagian besar berupa rumah panggung hingga kebiasaan sehari-hari.

Hingga kini tidak diketahui dengan pasti kapan budaya suku Bajo masuk ke Sapeken. Masyarakat setempat tidak memiliki bukti kontret peristiwa sejarah nenek moyang mereka. Hanya ada cerita-cerita rakyat yang menjadi pengantar orang tua untuk menidurkan anak-anaknya.

Dulu Sapeken dan beberapa pulau lain yang mengitarinya adalah pulau tak bertuan. Tidak ada kehidupan masyarakat di dalamnya. Akhirnya, para pendatang singgah, kemudian menetap di pulau itu. Karena masyarakat suku Bajo dikenal dengan kebiasaan merantau dan berpindah-pindah untuk mencari kehidupan di wilayah pesisir, tak heran jika kemudian muncul pendapat bahwa suku Bajo-lah yang “menciptakan” kehidupan di pulau itu.

“Tapi, saya tidak tahu kapan persisnya orang Bajo datang ke Sapeken. Saya juga tidak tahu apakah orang tua kami yang hidup di sini orang suku Bajo asli atau tidak,” kata tokoh masyarakat Sapeken, Gusni.

Karena fondasi awal dari bangunan pulau tersebut adalah budaya dan karakter masyarakat suku Bajo, sampai sekarang hal itu tidak bisa dipisahkan. Ia mendarah daging dan menjadi bagian utuh bangunan peradaban masyarakat Sapeken.

Sapeken adalah suku Bajo dan suku Bajo adalah Sapeken. Apalagi, nama Sapeken yang melekat pada pulau itu merupakan proses yang menyejarah sejak adanya kehidupan dipulau tersebut. Konon, sebelum pulau itu memiliki nama, pendatang yang ingin singgah ke pulau Sapeken perjalanan di atas laut. Begitu juga sebaliknya jika orang Sapeken ingin berangkat ke Jawa. Sebab, kapal danperahu yang ditumpangi masih menggunakan layar tradisional tanpa mesin. Kata “sepekan” itulah yang kmudian menjadi familier di tengah masyarakat dan disepakati menjadi nama pulau.

Delegation Proceeding of International Conference on Bajo/Same Zulkifli Azir memahani masyarakat Sapeken kurang peka akan sejrah pulaunya. Sebab, hingga kini tidak ada bukti sejarah yang menjelaskan hal itu.

“Biasanya orang Bajo menjadikan batu nisan sebagai penanda sejarah. Cuma, saya lihat di makan-makan orang sini baru semua. (Nisannya, Red) pakai kayu. Padahal, orang Bajo dulu menggunakan nisan batu,” jelas Zulkifli.

Dalam buku Kepulauan Kangean, Penelitian Terapan untuk Pembangunan karya Charles Illouz dan Philippe Grange juga tidak diungkap kapan suku Bajo bermigrasi ke Sapeken. Menurut grange, nenek moyang suku bajo datang ke Sapeken dari beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Suku Bajo menetap pada akhir abad ke-17 di tepian beberapa pulau kecil dari Kepulauan Nusa Tenggara dan Kepulauan Sapeken.

Sementara itu, posisi Sapeken sebagai ibu kota kecamatan membuatnya memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keberlangsungan pulau-pulau lain yang mengitarinya. Selain menjadi pusat pemerintahan karena terdapat kantor kecamatan, Sapeken merupakan pusat kegiatan bisnis, transportasi, bahkan pendidikan.

Tak heran, ketika musim tahun pelajaran baru tiba, suasana pulau akan beda jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Masayarakat dari pulau-pulau sekitar berbondong-bondong memenuhi setiap sudut Pulau Sapeken. Mulai dermaga, pasar, toko, hingga lembaga pendidikan. Praktis, palau yang memang kecil itu menjadi semakin sempit.

Tujuan kedatangan masyarakat dari pulau-pulau sekitar cukup beragam. Ada yang ingin menyekolahkan anaknya kebeberapa lembaga pendidikan yang berada di Sapeetan. Ada pula yang hanya ingin membeli buku, seragam, hingga perlengkapan sekolah lainnya karena anak-anak mereka lebih memilih untuk menuntut ilmu di pulau sendiri.

Ada pula orang tua yang datang ke Sepekan untuk mengantarkan anaknya ke sekolah atau perguruan tinggi yang berada di Jawa. Sebab, kapal perintis yang biasa digunakan sebagai alat transportasi laut untuk masyarakat se-Kecamatan Sapekan hanya mengangkut penumpang dari Demaga Sapekan.

Tidak sedikit juga penduduk asli Sapekan yang memberangkatkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu ke Pulau Jawa. Alasan mereka tentu bukan tuntunan gengsi atau keraguan akan kualitas lembaga pendidikan di Sapekan. Mereka ingin anak-anak itu melihat dunia luar yang lebih luas. Bagi kebanyakan orang tua, ukuran Sapekan yang kecil tidak boleh mengekang semangat dan cita-cita anak-anak mereka. Misi hidup anak-anak mereka harus seribu bahkan jutaan kali lebih besar daripada pulau yang mereka diami saat ini. (Hairul Faisal/c11/dos)
Sumber: JP MINGGU 12 NOVEMBER 2017
DI KETIK ULANG OLEH: (VAP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar