Karena Bahasa Adalah Identitas
Suku Bajo
masih mempertahankan tradisi yang ada sejak zaman nenek moyang mereka. Termasuk
soal bahasa.
LUAS Pulau Sapeken hanya sekitar 2 km persegi. Pulau
itu dikelilingi 22 pulau yang berada di timur Pulau Madura. Selain nama desa,
ia juga nama kecamatan.
Sapeken
menjadi pemimpin bagi 22 pulau yang berada di sekelilingnya. Penduduk pulau itu
berjumlah 2.600 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk Kecamata Sapeken mencapai
46.021 jiwa.
Sapeken
jauh terpencil. Untuk ke sana, orang harus menghabiskan waktu berjqm-jam di
atas laut. Dari Pelabuhan Batu Guluk, Sumenep, misalnya. Untuk sampai di
Dermaga Sapeken, kita harus menyeberangi laut selama 12-14 jam.
Meski
secara geografis Sapeken masuk pemerintahan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur,
mayoritas penduduknya tidak mengerti bahasa Madura atau bahasa Jawa sebagai
bahasa daerah orang Jawa Timur.
Bahasa
sehari-hari mereka pun bukan dua bahasa itu. Alat komunikasi masyarakat Sapeken
adalah bahasa Sama atau Same, bahasa suku Bajo. Bukan hanya itu, karakter
budaya yang berkembang di masyarakat juga merupakan produk kebudayaan suku
Bajo. Mulai rumah masyarakat yang sebagian besar berupa rumah panggung hingga
kebiasaan sehari-hari.
Hingga kini
tidak diketahui dengan pasti kapan budaya suku Bajo masuk ke Sapeken.
Masyarakat setempat tidak memiliki bukti kontret peristiwa sejarah nenek moyang
mereka. Hanya ada cerita-cerita rakyat yang menjadi pengantar orang tua untuk
menidurkan anak-anaknya.
Dulu Sapeken
dan beberapa pulau lain yang mengitarinya adalah pulau tak bertuan. Tidak ada
kehidupan masyarakat di dalamnya. Akhirnya, para pendatang singgah, kemudian
menetap di pulau itu. Karena masyarakat suku Bajo dikenal dengan kebiasaan
merantau dan berpindah-pindah untuk mencari kehidupan di wilayah pesisir, tak
heran jika kemudian muncul pendapat bahwa suku Bajo-lah yang “menciptakan”
kehidupan di pulau itu.
“Tapi, saya
tidak tahu kapan persisnya orang Bajo datang ke Sapeken. Saya juga tidak tahu
apakah orang tua kami yang hidup di sini orang suku Bajo asli atau tidak,” kata
tokoh masyarakat Sapeken, Gusni.
Karena
fondasi awal dari bangunan pulau tersebut adalah budaya dan karakter masyarakat
suku Bajo, sampai sekarang hal itu tidak bisa dipisahkan. Ia mendarah daging
dan menjadi bagian utuh bangunan peradaban masyarakat Sapeken.
Sapeken
adalah suku Bajo dan suku Bajo adalah Sapeken. Apalagi, nama Sapeken yang
melekat pada pulau itu merupakan proses yang menyejarah sejak adanya kehidupan
dipulau tersebut. Konon, sebelum pulau itu memiliki nama, pendatang yang ingin
singgah ke pulau Sapeken perjalanan di atas laut. Begitu juga sebaliknya jika
orang Sapeken ingin berangkat ke Jawa. Sebab, kapal danperahu yang ditumpangi
masih menggunakan layar tradisional tanpa mesin. Kata “sepekan” itulah yang
kmudian menjadi familier di tengah masyarakat dan disepakati menjadi nama
pulau.
Delegation
Proceeding of International Conference on Bajo/Same Zulkifli Azir memahani
masyarakat Sapeken kurang peka akan sejrah pulaunya. Sebab, hingga kini tidak
ada bukti sejarah yang menjelaskan hal itu.
“Biasanya
orang Bajo menjadikan batu nisan sebagai penanda sejarah. Cuma, saya lihat di
makan-makan orang sini baru semua. (Nisannya, Red) pakai kayu. Padahal, orang
Bajo dulu menggunakan nisan batu,” jelas Zulkifli.
Dalam buku
Kepulauan Kangean, Penelitian Terapan untuk Pembangunan karya Charles Illouz
dan Philippe Grange juga tidak diungkap kapan suku Bajo bermigrasi ke Sapeken.
Menurut grange, nenek moyang suku bajo datang ke Sapeken dari beberapa daerah
di Sulawesi Selatan. Suku Bajo menetap pada akhir abad ke-17 di tepian beberapa
pulau kecil dari Kepulauan Nusa Tenggara dan Kepulauan Sapeken.
Sementara
itu, posisi Sapeken sebagai ibu kota kecamatan membuatnya memiliki pengaruh
yang cukup besar terhadap keberlangsungan pulau-pulau lain yang mengitarinya.
Selain menjadi pusat pemerintahan karena terdapat kantor kecamatan, Sapeken
merupakan pusat kegiatan bisnis, transportasi, bahkan pendidikan.
Tak heran,
ketika musim tahun pelajaran baru tiba, suasana pulau akan beda jika
dibandingkan dengan hari-hari biasa. Masayarakat dari pulau-pulau sekitar
berbondong-bondong memenuhi setiap sudut Pulau Sapeken. Mulai dermaga, pasar,
toko, hingga lembaga pendidikan. Praktis, palau yang memang kecil itu menjadi
semakin sempit.
Tujuan kedatangan masyarakat dari pulau-pulau sekitar cukup
beragam. Ada yang ingin menyekolahkan anaknya kebeberapa lembaga pendidikan
yang berada di Sapeetan. Ada pula yang hanya ingin membeli buku, seragam,
hingga perlengkapan sekolah lainnya karena anak-anak mereka lebih memilih untuk
menuntut ilmu di pulau sendiri.
Ada pula orang tua yang datang ke Sepekan untuk mengantarkan
anaknya ke sekolah atau perguruan tinggi yang berada di Jawa. Sebab, kapal
perintis yang biasa digunakan sebagai alat transportasi laut untuk masyarakat
se-Kecamatan Sapekan hanya mengangkut penumpang dari Demaga Sapekan.
Tidak sedikit juga penduduk asli Sapekan yang
memberangkatkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu ke Pulau Jawa. Alasan
mereka tentu bukan tuntunan gengsi atau keraguan akan kualitas lembaga
pendidikan di Sapekan. Mereka ingin anak-anak itu melihat dunia luar yang lebih
luas. Bagi kebanyakan orang tua, ukuran Sapekan yang kecil tidak boleh
mengekang semangat dan cita-cita anak-anak mereka. Misi hidup anak-anak mereka
harus seribu bahkan jutaan kali lebih besar daripada pulau yang mereka diami
saat ini. (Hairul Faisal/c11/dos)
Sumber: JP MINGGU 12 NOVEMBER 2017
DI KETIK ULANG OLEH: (VAP)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar