Bangun Gereja Berbekal Gotong Royong
Greja (baca:
grejo) Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno terus teguh dalam arus zaman.
Kuncinya adalah kebersamaan dalam iman.
BANGUNAN beratap segitiga setinggi 20 meter
itu terlihat kukuh. Dengan delapan pilar tegak di bagian depannya. Warnanya
putih terang saat terpapar sinar matahari yang muncul dari ufuk timur.
Di bagian gewel (tembok segitiga di bagian atas
gedung) tampak tulisan huruf jawa. Bunyinya: Duh Gusti, Ingkang Kawula Paringi Sinten Malih? Paduka Ingkang
kagungan Pengandikaning Gesang Langgeng.
Artinya: Ya Tuhan, Kepada siapa kami
pergi? Hanya engkaulah yang hanya memiliki sabda hidup kekal.
Pagi itu,
Minggu (10/12), suasana greja Mojowarno telah ramai dengan aktivitas jemaat.
Mayoritas berusia sepuh. Beberapa di antaranya terlihat berjalan dengan
menggunakan tongkat. Dipandu oleh kerabat untuk masuk ke altar gereja. Ada stan
bazar di depan gereja.
Kemeriahan
Natal juga mulai terasa. Pohon Natal setinggi 2 meter lengkap dengan kado aneka
ukuran berserakan di bawah rimbun daun imitasi itu.
Memasuki
altar gereja, nuansa klasik terlihat mendominasi bangunan. Meja-kursi berwarna
coklat gelap mendominasi ruangan. Memanjang di mimbar depan hingga belakang.
Sementara di samping mimbar satu set gamelan Jawa lengkap berjajar rapi.
Plafon utuh
berbentuk melengkung berwarna telur hijau asin terlihat kukuh menaungi jemaat.
Ditengah plafon, bergelantungan tiga rantai besar menjulur ke bawah dengan
lampu-lampu cantik berwarna putih tulang.
Pukul 08.30,
lonceng gereja mulai berdentang lima belas kali. Tanda ibadah Minggu segera di
mulai. Pendeta yang mengenakan jubah putih bersyal hijau telah bersiap berdiri
di atas mimbar. Dia memimpin jemaat berdoa dengan manggunakan bahasa Jawa.
“Sesi ini,
seluruh proses ibadah menggunakan bahasa Jawa,” tutur Vakaris Petrus Hari Santoso saat menemui
koran ini melihat ibadah dari balkon gereja.
Bahasa itu
membuat tidak banyak kaum muda yang mengambil ibadah ini. Mereka lebih memilih
sesi yang berbahasa indonesia.
Setelah
ibadah, para jemaat bersiap rapi menuju pintu. Bersalaman dengan pendeta Wimbo
Santjoko yang hari itu memimpin doa.
Setelah itu,
Wimbo, 49, mengajak menuju selasar gereja. Tempat pohon Natal dan barisan foto
di pajang. Dari kumpulan foto, Wimbo menjelaskan mengenai beberapa tokoh yang
berjasa dalam pengembangan jemaat Mojowarno.
Mulai pembabat alas desa seperti Kiai Abisai
Ditroturno, Plaous Tosari sebagai pamulang yang pertama mengajar komunitas
Kristen Mojowarno, hingga sosok Drijo Mestoko, Pendeta pertama Jawa. “Foto ini
kami pasang untuk memperingati ulang tahun sinode GKJW ke -86,” terangnya.
Ya, greja
Mojowarno memang menjadi saksi berdirinya sinode atau kumpulan jemaat GKJW.
Tepatnya pada 11 Desember 1931. Pada tahun itu, secara resmi pemerinyah Hindia
Belanda mengakui adanya perserikatan jemaat GKJW.
Peringatan
kelahiran sinode GKJW merupakan salah satu nukilan kecil dalam lintasan
perkembangan agama akaristen di jemaat Mojowarno. Jauh sebelum berserikat,
perkembangan komunitas Kristen lebih dulu muncul pada abad ke- 19.
Kuatnya
komunitas Kristen tersebut dapat terlihat dari kukuhnya bangunan gereja yang
telah di resmikan pada 3 Maret 1881. Saat itu, gereja menjadi bangunan termegah
di antara rumah penduduk yang seluruhnya masih terbuat dari anyaman bambu dan
ilalang.
Pembangunan
gereja yang menempati lahan seluas 2.537 meter persegi tersebut terbilang
cepat. Hanya butuh dua tahun. Itu jika dihitung dari peletakan batu pertama
pada 24 Februari 1879.
Meski
terbilang cepat, pembangunan gereja sebenarnya sempat terhalang dana. Untuk
itu, guru Injil Paulus Tosari dan pendeta utusan Belanda Johannes Kuyrt sepakat
membuat lumbung pirukunan. Wadah yang
menghimpun hasil panen masyarakat.
Hasil
lumbung kemudian di jual dan menghasilkan dana sebesar 5 ribu gulden. Mendapat
dana, Tosari dan Kuyrt lantas berkonsultasi dengan pemerintah kabupaten untuk
di buatkan rancangan bangunan yang termasuk perincian anggaran biayanya.
“Keduanya
kaget karena ternyata dana yang di butuhkan untuk membangun gereja mencapai
25-30 ribu gulden,” terang sesepuh GKJW jemaat Mojowarno Djoko Purwanto.
Kekurangan
biaya tersebut kemudian diatasi dengan membangun sendiri gereja. Yang memimpin
adalah Nash, seorang jamaat yang bekerja di bidang pertukangan. Rancangan Nash
itulah, yang kemudian dipakai untuk desain gereja Mojowarno.
Untuk tenaga
kerjanya, umat Mojowarno sepakat bekerja bakti. Gotong royong tanpa biaya.
Laki-laki dan perempuan turut serta.
Solidaritas
tanpa pamrih oleh warga Kristen Mojowarno kala itu masih bisa kita rasakan
hingga kini. Diusianya ke- 136 tahun, Gereja Mojowarno tetap kkukuh melawan
zaman. (Edi Susilo/c19/dos)
SUMBER: JP-RP MINGGU 17 DESEMBER 2017
DIKETIK ULANG OLEH: LD



Tidak ada komentar:
Posting Komentar