Minggu, 04 Februari 2018

Keteguhan Umat Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno Jaga Tradisi (1)





Bangun Gereja Berbekal Gotong Royong


Greja (baca: grejo) Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno terus teguh dalam arus zaman. Kuncinya adalah kebersamaan dalam iman.

BANGUNAN beratap segitiga setinggi 20 meter itu terlihat kukuh. Dengan delapan pilar tegak di bagian depannya. Warnanya putih terang saat terpapar sinar matahari yang muncul dari ufuk timur.


Di bagian gewel (tembok segitiga di bagian atas gedung) tampak tulisan huruf jawa. Bunyinya: Duh Gusti, Ingkang Kawula Paringi Sinten Malih? Paduka Ingkang kagungan  Pengandikaning Gesang Langgeng.  Artinya: Ya Tuhan, Kepada siapa kami pergi? Hanya engkaulah yang hanya memiliki sabda hidup kekal.

Pagi itu, Minggu (10/12), suasana greja Mojowarno telah ramai dengan aktivitas jemaat. Mayoritas berusia sepuh. Beberapa di antaranya terlihat berjalan dengan menggunakan tongkat. Dipandu oleh kerabat untuk masuk ke altar gereja. Ada stan bazar di depan gereja.

Kemeriahan Natal juga mulai terasa. Pohon Natal setinggi 2 meter lengkap dengan kado aneka ukuran berserakan di bawah rimbun daun imitasi itu.

Memasuki altar gereja, nuansa klasik terlihat mendominasi bangunan. Meja-kursi berwarna coklat gelap mendominasi ruangan. Memanjang di mimbar depan hingga belakang. Sementara di samping mimbar satu set gamelan Jawa lengkap berjajar rapi.

Plafon utuh berbentuk melengkung berwarna telur hijau asin terlihat kukuh menaungi jemaat. Ditengah plafon, bergelantungan tiga rantai besar menjulur ke bawah dengan lampu-lampu cantik berwarna putih tulang.

Pukul 08.30, lonceng gereja mulai berdentang lima belas kali. Tanda ibadah Minggu segera di mulai. Pendeta yang mengenakan jubah putih bersyal hijau telah bersiap berdiri di atas mimbar. Dia memimpin jemaat berdoa dengan manggunakan bahasa Jawa.

“Sesi ini, seluruh proses ibadah menggunakan bahasa Jawa,” tutur  Vakaris Petrus Hari Santoso saat menemui koran ini melihat ibadah dari balkon gereja.

Bahasa itu membuat tidak banyak kaum muda yang mengambil ibadah ini. Mereka lebih memilih sesi yang berbahasa indonesia.

Setelah ibadah, para jemaat bersiap rapi menuju pintu. Bersalaman dengan pendeta Wimbo Santjoko yang hari itu memimpin doa.

Setelah itu, Wimbo, 49, mengajak menuju selasar gereja. Tempat pohon Natal dan barisan foto di pajang. Dari kumpulan foto, Wimbo menjelaskan mengenai beberapa tokoh yang berjasa dalam pengembangan jemaat Mojowarno.

Mulai pembabat alas desa seperti Kiai Abisai Ditroturno, Plaous  Tosari sebagai pamulang yang pertama mengajar komunitas Kristen Mojowarno, hingga sosok Drijo Mestoko, Pendeta pertama Jawa. “Foto ini kami pasang untuk memperingati ulang tahun sinode GKJW ke -86,” terangnya.

Ya, greja Mojowarno memang menjadi saksi berdirinya sinode atau kumpulan jemaat GKJW. Tepatnya pada 11 Desember 1931. Pada tahun itu, secara resmi pemerinyah Hindia Belanda mengakui adanya perserikatan jemaat GKJW.

Peringatan kelahiran sinode GKJW merupakan salah satu nukilan kecil dalam lintasan perkembangan agama akaristen di jemaat Mojowarno. Jauh sebelum berserikat, perkembangan komunitas Kristen lebih dulu muncul pada abad ke- 19.

Kuatnya komunitas Kristen tersebut dapat terlihat dari kukuhnya bangunan gereja yang telah di resmikan pada 3 Maret 1881. Saat itu, gereja menjadi bangunan termegah di antara rumah penduduk yang seluruhnya masih terbuat dari anyaman bambu dan ilalang.

Pembangunan gereja yang menempati lahan seluas 2.537 meter persegi tersebut terbilang cepat. Hanya butuh dua tahun. Itu jika dihitung dari peletakan batu pertama pada 24 Februari  1879.

Meski terbilang cepat, pembangunan gereja sebenarnya sempat terhalang dana. Untuk itu, guru Injil Paulus Tosari dan pendeta utusan Belanda Johannes Kuyrt sepakat membuat lumbung pirukunan. Wadah yang menghimpun hasil panen masyarakat.

Hasil lumbung kemudian di jual dan menghasilkan dana sebesar 5 ribu gulden. Mendapat dana, Tosari dan Kuyrt lantas berkonsultasi dengan pemerintah kabupaten untuk di buatkan rancangan bangunan yang termasuk perincian anggaran biayanya.


“Keduanya kaget karena ternyata dana yang di butuhkan untuk membangun gereja mencapai 25-30 ribu gulden,” terang sesepuh GKJW jemaat Mojowarno Djoko Purwanto.

Kekurangan biaya tersebut kemudian diatasi dengan membangun sendiri gereja. Yang memimpin adalah Nash, seorang jamaat yang bekerja di bidang pertukangan. Rancangan Nash itulah, yang kemudian dipakai untuk desain gereja Mojowarno.

Untuk tenaga kerjanya, umat Mojowarno sepakat bekerja bakti. Gotong royong tanpa biaya. Laki-laki dan perempuan turut serta.

Solidaritas tanpa pamrih oleh warga Kristen Mojowarno kala itu masih bisa kita rasakan hingga kini. Diusianya ke- 136 tahun, Gereja Mojowarno tetap kkukuh melawan zaman. (Edi Susilo/c19/dos)

SUMBER: JP-RP MINGGU 17 DESEMBER 2017
DIKETIK ULANG OLEH: LD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar