Senin, 05 Februari 2018

Yadnya Kasada, Ritual Suci Hindu Tengger di Lereng Gunung Bromo (2-Habis)



Unggah-ungguh Sesaji
Tidak ada batasan paling sedikit atau paling banyak. Yang paling penting adalah niat dan ikhlas. Meski klise, peraturan itulah yang dipegang pemeluk Hindu Tengger sejak zaman nenekmoyang. Sebab, sejatinya apa yang diberikan ibu bumi pasti akan kembali ke ibu bumi.


TIDAK banyak penduduk yang beraktivitas di ladang pada 9 Juli, sehari sebelum Yadnya Kasada berlangsung, di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Para ibu melmilih mengobrol sambil mengasuh anak-anaknya di teras rumah. Beberapa di antaranya sibuk memasak. Hanya rumah Mojo yang ramai kala itu.

Lima pria yang berusia lebih daro 40 tahun tampak sibuk di teras samping rumah pinisepuh Desa Jetak tersebut. Semua mengenakan “seragam” masyarakat Tengger. Kaus berlapis jaket dengan sarung menutup tubuh bagian atas.

Bebrapa sibuk memotong bambu menjadi bilahan tipis. Lainnya membuat lubang di batang bambu. Dinding rumah Mojo menajdi sandaran batang pisang, lengkap dengan buah dan jantungnya. Bebrapa kantong olastik yang berisi bunga dan dedaunan juga terlihat di lantai teras.

Seluruh barang itu bakal dirangkai menjadi sesaji yang dilabuh di kawah Bromo. “memang harus ndadak buatnya. Sajen nggak boleh di simpan. Harus langsung diberikan,” kata Mojo.

Barang yang dibutuhkan, menurut dia, bisa dikumpulkan sejak dua atau tiga hari sebelum ongkek dan tetuwuhan dibuat. Seakan terlatih, para pria tersebut membuat ongkek atau pikulan berbahan bambu Cuma dalam waktu dua jam. Merangkai tetuwuhan atau hasil bumi dan tumbuhan untuk sesajinya jauh lebih cepat lagi. Strukturnya sederhana, tetapi tetap penuh warna. Jauh dari bayangan sesaji yang megah, disusun denganbentuk tertentu.

Yo ada sesaji seperti itu, yang bagus-bagus. Tapi, di Tengger, adatnya seperti ini. Sederhana, tapi banyak makannya,” ungkap suyitno, dukun pandita Desa Jetak. Dia menjelaskan bahwa yang terpasang di sesaji buakan Cuma untuk bagus-bagusan. Setiap unsur tumbuhan menyimpan filosofi yang diharapkan bisa diteladani masyarkat Tengger.

Suyitno menyatkan, untuk menggarap sesaji, tidak ada standar atau patokan biaya. “Yang penting, barang sesaji bagus. Tidak rusak. Habisnya berapa, ya nggak dihitung. Wong namanya kewjiban,” ujarnya.

Seluruh kebuthan tetuwuhan dan ongkek disumbang penduduk satu desa. Selama tidak memberatkan, pasti diberikan. Namun, dia mengakui bahwa ada beberapa yang memang harus dibeli. Di antaranya, bunga kelapa (manggar) dan phon pisang yang tidak selalu ada di Tengger. “Orang sini nyebutnya pisang brentel, memang bisa dipakai buat acra seperti nikahan atau ruwat. Sebatang bisa seharga Rp 200 ribu-Rp 300ribu,” jelas Mojo.

Kembang dalam tetuwuhan pun tidak seberagam yang biasa dilihat di canang Bali. Hanya ada kenikir (mariglod atau bunga tahi kotok dan edelwiss, yang disebut tanalayu oleh penduduk setempat. Juga putihan, semak pendek dengan daun berbulu putih. Tiga serangkai itu wajib ada. “Umpama di desanya ada mawar bagus, mau di masukkan, ya nggak dilarang. Supaya kelihatan cantik,´tutur suyitno.

Hasil bumi-seperti kentang, daun bawang, hingga kopi-juga terkihat di usungan ongkek. Semua merupakan hasil panen penduduk setempat.

Ketua paruman dukun pandita tengger sutomo menjelaskan, jika di-udhal atau di bahas secara mendalam, ketuwuhan bisa jadi cerita panjang.’’ Seperti karya sastra, di buat dan punya makan. Bedanya, sesaji tidak di tulis, tapi dilaksanakan,’’ terangnya.

Lewat ongket dan tetuwuhan tersebut, berselip doa umat hindu tengger. Hasil bumi dan aneka tumbuhan di harapkan mampu melunasi janji mereka kepada jay kusuma. Sekaligus bentuk syukur pada ibi bumi.’’ Saat sesaji di labuh di kawah, besar harapan kami, sang haeyang  widi wasa akan memberikan selamat dan makmur  buat desa-desa di tengger. Hidup cukup ayem, tentrem,’’ paparnya.

Meski nanti sesaji menjadi rebutan beberapa masyarakat yang sengaja menunggu di kawah , tidak ada kekhawatiran bahwa berkaah yang mereka dapat berkurang.’’ Kalau sesaji kami akhirnya di bawah orang, ya nggak papa,itung-itung berbagi,’’ ujar tomo.

Dia  yakin, selama niat terucap dengan ikhlas, sesaji bakal di terima sang haeyang widi.’’ Yang diatas selalu punya rencana yang manusia tidak akan bisa nebak. yakinlah ,’’ tuturnya.
(fahmi samastuti/c14/dos)
Sumber : JP minggu 23 juli 2017
Di ketik ulang oleh : (as)     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar