Unggah-ungguh Sesaji
Tidak ada
batasan paling sedikit atau paling banyak. Yang paling penting adalah niat dan
ikhlas. Meski klise, peraturan itulah yang dipegang pemeluk Hindu Tengger sejak
zaman nenekmoyang. Sebab, sejatinya apa yang diberikan ibu bumi pasti akan
kembali ke ibu bumi.
TIDAK banyak penduduk yang beraktivitas di
ladang pada 9 Juli, sehari sebelum Yadnya Kasada berlangsung, di Desa Jetak,
Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Para ibu melmilih mengobrol sambil
mengasuh anak-anaknya di teras rumah. Beberapa di antaranya sibuk memasak.
Hanya rumah Mojo yang ramai kala itu.
Lima pria
yang berusia lebih daro 40 tahun tampak sibuk di teras samping rumah pinisepuh
Desa Jetak tersebut. Semua mengenakan “seragam” masyarakat Tengger. Kaus
berlapis jaket dengan sarung menutup tubuh bagian atas.
Bebrapa
sibuk memotong bambu menjadi bilahan tipis. Lainnya membuat lubang di batang
bambu. Dinding rumah Mojo menajdi sandaran batang pisang, lengkap dengan buah
dan jantungnya. Bebrapa kantong olastik yang berisi bunga dan dedaunan juga
terlihat di lantai teras.
Seluruh
barang itu bakal dirangkai menjadi sesaji yang dilabuh di kawah Bromo. “memang
harus ndadak buatnya. Sajen nggak boleh di simpan. Harus langsung
diberikan,” kata Mojo.
Barang yang
dibutuhkan, menurut dia, bisa dikumpulkan sejak dua atau tiga hari sebelum
ongkek dan tetuwuhan dibuat. Seakan
terlatih, para pria tersebut membuat ongkek atau pikulan berbahan bambu Cuma dalam
waktu dua jam. Merangkai tetuwuhan
atau hasil bumi dan tumbuhan untuk sesajinya jauh lebih cepat lagi. Strukturnya
sederhana, tetapi tetap penuh warna. Jauh dari bayangan sesaji yang megah,
disusun denganbentuk tertentu.
“Yo ada sesaji seperti itu, yang
bagus-bagus. Tapi, di Tengger, adatnya seperti ini. Sederhana, tapi banyak
makannya,” ungkap suyitno, dukun pandita Desa
Jetak. Dia menjelaskan bahwa yang terpasang di sesaji buakan Cuma untuk
bagus-bagusan. Setiap unsur tumbuhan menyimpan filosofi yang diharapkan bisa
diteladani masyarkat Tengger.
Suyitno
menyatkan, untuk menggarap sesaji, tidak ada standar atau patokan biaya. “Yang
penting, barang sesaji bagus. Tidak rusak. Habisnya berapa, ya nggak dihitung. Wong namanya kewjiban,”
ujarnya.
Seluruh kebuthan
tetuwuhan dan ongkek disumbang
penduduk satu desa. Selama tidak memberatkan, pasti diberikan. Namun, dia
mengakui bahwa ada beberapa yang memang harus dibeli. Di antaranya, bunga
kelapa (manggar) dan phon pisang yang tidak selalu ada di Tengger. “Orang sini nyebutnya pisang brentel, memang bisa dipakai buat acra seperti nikahan atau ruwat.
Sebatang bisa seharga Rp 200 ribu-Rp 300ribu,” jelas Mojo.
Kembang dalam tetuwuhan
pun tidak seberagam yang biasa dilihat di canang Bali. Hanya ada kenikir (mariglod atau bunga tahi kotok dan edelwiss, yang disebut tanalayu oleh penduduk setempat. Juga
putihan, semak pendek dengan daun berbulu putih. Tiga serangkai itu wajib ada.
“Umpama di desanya ada mawar bagus, mau di masukkan, ya nggak dilarang. Supaya kelihatan cantik,´tutur suyitno.
Hasil bumi-seperti kentang, daun bawang, hingga kopi-juga
terkihat di usungan ongkek. Semua merupakan hasil panen penduduk setempat.
Ketua paruman dukun pandita tengger sutomo menjelaskan, jika
di-udhal atau di bahas secara mendalam,
ketuwuhan bisa jadi cerita panjang.’’
Seperti karya sastra, di buat dan punya makan. Bedanya, sesaji tidak di tulis,
tapi dilaksanakan,’’ terangnya.
Lewat ongket dan tetuwuhan
tersebut, berselip doa umat hindu tengger. Hasil bumi dan aneka tumbuhan di
harapkan mampu melunasi janji mereka kepada jay kusuma. Sekaligus bentuk syukur
pada ibi bumi.’’ Saat sesaji di labuh di kawah, besar harapan kami, sang
haeyang widi wasa akan memberikan
selamat dan makmur buat desa-desa di
tengger. Hidup cukup ayem, tentrem,’’
paparnya.
Meski nanti sesaji menjadi rebutan beberapa masyarakat yang
sengaja menunggu di kawah , tidak ada kekhawatiran bahwa berkaah yang mereka
dapat berkurang.’’ Kalau sesaji kami akhirnya di bawah orang, ya nggak papa,itung-itung berbagi,’’ ujar
tomo.
Dia yakin, selama niat
terucap dengan ikhlas, sesaji bakal di terima sang haeyang widi.’’ Yang diatas
selalu punya rencana yang manusia tidak akan bisa nebak. yakinlah ,’’ tuturnya.
(fahmi samastuti/c14/dos)
Sumber : JP minggu 23 juli 2017
Di ketik ulang oleh : (as)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar