Selasa, 06 Februari 2018

Maen Pukulan Betawi nyang Kagak Ade Matinye (2-Habis)


                      

           Sarung untuk Salat dan Senjata 

Samurai Jepang punya dua bilah pedang, panjang dan pendek. Para jawara Betawi juga punya senjata. Senjata utama berupa golok yang terselip di pinggang. Senjata kedua adalah sarung. Ya, sarung.

Senin, 05 Februari 2018

Yadnya Kasada, Ritual Suci Hindu Tengger di Lereng Gunung Bromo (2-Habis)



Unggah-ungguh Sesaji
Tidak ada batasan paling sedikit atau paling banyak. Yang paling penting adalah niat dan ikhlas. Meski klise, peraturan itulah yang dipegang pemeluk Hindu Tengger sejak zaman nenekmoyang. Sebab, sejatinya apa yang diberikan ibu bumi pasti akan kembali ke ibu bumi.

Minggu, 04 Februari 2018

Keteguhan Umat Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno Jaga Tradisi (1)





Bangun Gereja Berbekal Gotong Royong


Greja (baca: grejo) Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno terus teguh dalam arus zaman. Kuncinya adalah kebersamaan dalam iman.

BANGUNAN beratap segitiga setinggi 20 meter itu terlihat kukuh. Dengan delapan pilar tegak di bagian depannya. Warnanya putih terang saat terpapar sinar matahari yang muncul dari ufuk timur.

Sabtu, 03 Februari 2018

Jaga Alam Dengan Sasi Lompa




Saat Ikan-Ikan Kembali Pulang




                Di sebuah pulau kecil, Haruku, Maluku Tengah, terdapat tradisi  untuk menjaga alamnya : sasi lompa. Acara tersebut di helat rutin tiap tahun. Biasanya pada Oktober atau November. Bergantung tanda-tanda alam.

Jumat, 02 Februari 2018

Jejak Suku Bajo dalam Mewarnai Nusantara (2)


Karena Bahasa Adalah Identitas



Suku Bajo masih mempertahankan tradisi yang ada sejak zaman nenek moyang mereka. Termasuk soal bahasa.

LUAS Pulau Sapeken hanya sekitar 2 km persegi. Pulau itu dikelilingi 22 pulau yang berada di timur Pulau Madura. Selain nama desa, ia juga nama kecamatan.

Kamis, 01 Februari 2018

Jejak suku bajo dalam mewarnai nusantara (1)




Panglima darat, laksamana di laut



Bajo merupakan satu di antara sekian banyak suku di tanah air. Kehadiranya mengisi setiap lembaran buku putih keberaaman. Mempertegas bahwa indonesia adalah sepotong surga yang memesona berkat pantulan harmoni.

Rabu, 31 Januari 2018

Dhurung. Lumbung Multifungsi Khas Bawean



Simpan Padi hingga Jadi Tempat Ngaji

Dhurung bukan sekedar bangunan pelengkap bagi sebagian rumah warga Bawean. Pulau yang berjarak sekitar 120 kilometer di utara Gresik, Jawa Timur. Ia bisa jadi tempat berkumpul dan menerima tamu. Balai tanpa dinding itu juga wujud ketahanan pangan Pulau Purtri-sebutan Bawean.

Selasa, 30 Januari 2018

Yadnya Kasada, Ritual Suci Hindu Tengger di Lereng Gunung Bromo (2-Habis)



Unggah-ungguh Sesaji

 

Tidak ada batasan paling sedikit atau paling banyak. Yang paling penting adalah niat dan ikhlas. Meski klise, peraturan itulah yang dipegang pemeluk Hindu Tengger sejak zaman nenekmoyang. Sebab, sejatinya apa yang diberikan ibu bumi pasti akan kembali ke ibu bumi.

Senin, 29 Januari 2018

Siger Khas Pepaduan dengan Sembilan Jurai yang Melambaikan Sembilan Sungai di Lampung.



SIGER adalah identitas resmi masyarakat Lampung. Provinsi yang terkenal dengan ikon gajah tersebut menyimpan pwersona luar bisa dalam hal siger.

Minggu, 28 Januari 2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Ma’nene, Menghormati Yang Telah Berpulang, Merekatkan Kekeluargaan (2-Habis)



Tradisi Berlandasan Agama



Tradisi ma’nene telah ada selama ratusan tahun. Seiring waktu berlalu, generasi berganti, tradisi unik masyarakat Toraja Utara itu pun ikut termodifikasi. Yang paling terlihat adalah kentalnya pengaruh agama kristen.

Jumat, 26 Januari 2018

Prosesi Tahun Baru ala Warga Telaga Ngebel, Ponorogo



WAKTU mendekati tengah malam, rabu (20/9). Sorot kedua mata sa,kun masih terlihat tajam. Berdiri mengenakan celana kolor, lelaki berusia 54 tahun itu tampak tegap Dinginnya air telaga Ngebel hanya di tanggapi nyengir.

Kamis, 25 Januari 2018

Tradisi Lestari Suku Papua Pengunungan di Wamean (2-Habis)



Sering Kali Tidak Bisa Memilih





Dalam tradisi Wamena, laki-laki memang menjadi penentu di banyak aspek. Sementara itu, peran perempuan tak jauh-jauh dari peran domestik rumah tangga saja. Meski begitu, posisi perempuan di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, tetap menarik.

KABUPATEN Jayawijaya punya banyak sekali suku. Sekitar 40 suku. Masing-masih punya ciri khas sendiri. Termasuk dalam hal berpakaian.

Namun, secara garis besar, pakaian mereka sama. Laki-laki berkotekan dan perempuan mengenakan Sali atau rok yang terbuat dari anyaman daun yang dikeringkan lalu dibentuuk seperti benang.

Ciri khas lainnya adalah setiap perempuan pasti memiliki noken. Noken merupakan tas asli Wamena yang juga terbuat dari daun dan serat-serat tumbuhan. Walaupun sekarang sudah banyak noken yang dibuat dari benang tokok.

Cara memakai token juga cukup khas, diletakkan dia atas kepala. Para perempuan menggunakannya untuk membawa apa pun, termasuk menggendong bayi. Tak jarang juga didapati perempuan yang menggendong lebih dari dua noken di kepalanya.

Setiap ada waktu luang, perempuan Wamena membuat noken. Mulai memintal daun dan serat tumbuhan hingga menganyam. Rata-rata noken yang berukuran besar bisa diselesaikan selama tiga minggu hingga satu bulan.

Dalam honai, rumah adat Papua, perempuan tidur di tempat yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan tidak boleh masuk ke holai laki-laki. Bentuk honai perempuan biasanya memanjang dengan dua tempat tidur yang digunakan bersama-sama. Tempat tidur mereka selalu terletak di atas perapian yang digunakan sebagai kompor.

Di honai perempuan biasanya juga terdapat kandang babi. Justru kandang babi itu lebih besar dari pada tempat tidur mereka. Kadang babi terletak di tengah honai.

Perempuan dan peliharaannya, babi, juga begitu dekat. Saat berkunjung ke Wamena awal Agustus, Jawa Pos sempat berkunjung ke rumah adat salah satu suku di Wamena.

Mereka menunjukkan bagaimana kedekatan perempuan, terutama para ibu, dengan babinya. “Kalau dipanggil bukan dengan yang punya, babi tidak mau mendekat,” kata Lusi Lokobal, salah seorang istri ketua suku Asolokobal.

Dulu bahkan ada tradisi ibu menyusui babinya. Para ibu memperlakukan babi seperti anaknya. Bahkan, saat festival Lembah Baliem, ada lomba karapan anak babi. Lombanya cukup unik. Si ibu, yang biasa dipanggil mama, berjalan. Sementara itu, babinya mengikuti di belakang.

Tradisi lainnya yang dilakukan permpuan adalah bakt batu. Bakar batu tersebut merupakan tradisi adat memasak dengan batu. Biasanya dilakukan untuk merayakan sesuatu. Berpesta. Yang dimasak adalah babi, ubi, dan daun-dauan.

Caranya, batu dipanaskan di atas bara api. Setelah panas, batu disusun dalam sebuah lubang. Untuk mengalasi makanan, biasanya digunakan ilalang atau daun-daun. Susunan pertama yang dimasukkan adalah umbi-umbian. Lalu ditindih batu panas lagi. Di atasnya ditambah daun-daun seperti daun umbi. Lalu, yang paling atas adalah daging babi. Setelah itu, lubang ditutup daun serta batu panas lagi. Biasanya mereka memasak selama satu jam.

Secara sosial, perempuan Wamena, terutama masih tinggal di pelosok, tidak memiliki daya tawar dengan laki-laki. Mereka kerap dipaksa menikah, bahkan oleh keluarga sendiri. David Siet, ketua suku Distrik Pisugi, menunturkan bahwa salah seorang istrinya ditawarkan oleh keluarga. “Dia masih SMP,” katanya di sela-sela festival Lembah Baliem.

Perempuan di Wamena memang tidak memerankan banyak hal penting. Walaupun menjadi penduduk kelas dua, masih banyak di antara mereka yang tunduk dan menjalani peran tersebut. (Ferlynda Putri/c19/do)

Sumber: JP- MINGGU 1 OKTOBER2017
Di ketik ulang oleh: (VAP)

Rabu, 24 Januari 2018

Tradisi Lestari Suku Papua Pegunungan di Wamena (1)



Sampai Mati Bela Harga Diri



            Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua. Kata orang, belum ke Papua kalau belum singgah di kota yang berada di lembah pegunungan jaya wijaya tersebut. Keragaman budaya wamena konon adalah gambaran orang-orang papua yang berada di pegunungan.

Selasa, 23 Januari 2018

MISTERI KEHIDUPAN MALAM WAROK-GEMBLAK


Jadi Ayah hingga Kekasih 



Kehidupan malam warok-gemblak menyisakan beragam misteri, mereka pahlawan kesenian reog.Masing-masing punya cerita berbeda.

SUDIRMAN masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) . Usianya masih 15 tahun ketika orang tuanya membisikan sebuah keinginan. Mereka berhajat anak kesayangannya menjadi gemblak. Ya, gemblak adalah jejaka-jejaka yang dipilih untuk menjadi ‘’ simpanan’’ para warok, tokoh dalam kesenian reog ponorogo.

Senin, 22 Januari 2018

Kearifan Lokal dari Hidup Sederhana Masyarakat Suku Kajang Dalam (2-Habis)



Tak Bisa Masak, Harus Menenun


            Suku Kajang Dalam dikenal dengan kehidupannya yang sangat sederhana. Tidak mengejar kekayaan. Namun, mereka tidak berarti selalu hidup dalam kesusahan. Pada pesta pernikahan, misalnya, dibutuhkanmodal besar untuk bisa mempersunting calon pasangan yang diidamkan.

Minggu, 21 Januari 2018

Masuk Boleh asal Patuhi Aturan




KECAMATAN  Kajang, BuluKumba, Sulawesi Selatan, terdiri atas 17 Desa dan 2 kelurahan. Suku Kajang Dalam berada di Desa Tana Toa. Meski demikian, pengaruh Amma Toa tidak cukup di lingkup itu saja. Bahkan terasa hinggga wilayah tertentu di Herlang, Bulu Kumba. Juga di sebagian wilayah Sinjai.


      Kepala Desa Tana Toa Salam menuturkan, area kepemimpinannya terdiri atas Sembilan dusun. Yakni Balagana, Janaya, So’bu, Benteng, Luraya, Balambina, Tombola, Bonkiana dan Pani.

          Diantara Sembilan dusun tersebut, tujuh masuk kawasan adat. Sementara itu, dua dusun yang lain, yaitu Balagana dan Janaya, berada diluar. Itu berarti masyarakat yang tinggal di tujuh dusun tersebut wajib mematuhi aturan yang berlaku di dalam jawasan adat.

Sabtu, 20 Januari 2018

Ruwatan Potong Rambut Gimbal ala Anak-Anak Dieng (2-Habis)



Si Gembel Pengundang Pelancong

            Gimbal atau gembel boleh saja berkonotasi jelek atau kumuh. Tak urus. Tapi, anak-anak gimbal Dataran Tinggi Dieng  justru punya magnet dari situ. Rambut gimbal mereka seperti  memiliki ilmu sihir. Bak punya daya pikat.



            SEJAK 2010, ruwatan pemotongan rambut gimbal masuk agenda Dieng Cultute Festival (DCF). Masyarakat jadi paham. Wisatawan terus berbondong-bondong menyaksikan upacara tahunan tersebut.

            Tahun ini , DCF di selenggarakan 4-6 agustus di kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, Jawa Tengah. Acara puncaknya, yakni ruwatan pemotongan rambut gimbal, dilaksanakan pada Minggu (6/8). “Kalau di akhir ini, biasanya memang yang paling ditunggu-tunggu,” ungkap Ketua Panitia DCF 2017 Alif Fauzi.

Jumat, 19 Januari 2018

Ruatan Potong Rambut Gimbal ala Anak-anak Dieng (1)



Saat “Sang Penjaga” Menitis


Kemeriahan prosesi pemotongan rambut gimbal anak-anak Dataran Tonggo Dieng, Banjarnegara, Jateng, tak mengurangi kesaklarannya. Minggu, (6/8) Sembilan anak mengikuti ruwatan tersebut di kompleks Candi Arjuna.

GIMBAL. Gembel. Dreadlock, kata bahasa Inggris. Kesannya pemberontakan. Kumuh. Enggak terurus. Hippies. Tapi, bagi warga Daratan tinggi Dieng, rambut gimbal tak meresahkan. Justru kebanggaan.

Kamis, 18 Januari 2018

Rahasia Feodal sawah sepider –man






Hampir semua berbagian tanah Manggarai,bakan di seluruh Flores Timur dahulu mengunakan system linko sawah apakah itu sawah,tegal, kebun bahkan hutan . system ini adalah asalmuasal munculnya sawah “spider-man “ yang amat terkenal di kalagan turis. Di kerajaan Manggarai system fiodal itu di sebut membaru lingko peang (rumah di dalam, landing di luara).

Rabu, 17 Januari 2018

Mengunjungi Todo, Bekas Ibu Kota Kerajaan Manggarai (1)



Gendang Bidadari, Pemersatu Tiga Raja

      Gadis cantik itu bernama Wela Lowe. Artinya, bunga yang tengah mekar. Kulitnya putih bening. Jika terpapar cahaya bulan, pantulannya berpilin tinggi ke langit. Sampai-sampai terlihat dari seberang lautan. Berkat pengorbanannya, perseteruan tiga raja reda, masa penjajahan berakhir, dan masyarakat Manggarai bersatu di bawah bendera tunggal, Todo.