Sering Kali Tidak Bisa Memilih
Dalam
tradisi Wamena, laki-laki memang menjadi penentu di banyak aspek. Sementara
itu, peran perempuan tak jauh-jauh dari peran domestik rumah tangga saja. Meski
begitu, posisi perempuan di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, tetap menarik.
KABUPATEN Jayawijaya punya banyak sekali suku.
Sekitar 40 suku. Masing-masih punya ciri khas sendiri. Termasuk dalam hal
berpakaian.
Namun,
secara garis besar, pakaian mereka sama. Laki-laki berkotekan dan perempuan
mengenakan Sali atau rok yang terbuat dari anyaman daun yang dikeringkan lalu
dibentuuk seperti benang.
Ciri khas
lainnya adalah setiap perempuan pasti memiliki noken. Noken merupakan tas asli
Wamena yang juga terbuat dari daun dan serat-serat tumbuhan. Walaupun sekarang
sudah banyak noken yang dibuat dari benang tokok.
Cara memakai
token juga cukup khas, diletakkan dia atas kepala. Para perempuan
menggunakannya untuk membawa apa pun, termasuk menggendong bayi. Tak jarang
juga didapati perempuan yang menggendong lebih dari dua noken di kepalanya.
Setiap ada
waktu luang, perempuan Wamena membuat noken. Mulai memintal daun dan serat
tumbuhan hingga menganyam. Rata-rata noken yang berukuran besar bisa
diselesaikan selama tiga minggu hingga satu bulan.
Dalam honai,
rumah adat Papua, perempuan tidur di tempat yang berbeda dengan laki-laki.
Perempuan tidak boleh masuk ke holai laki-laki. Bentuk honai perempuan biasanya
memanjang dengan dua tempat tidur yang digunakan bersama-sama. Tempat tidur
mereka selalu terletak di atas perapian yang digunakan sebagai kompor.
Di honai
perempuan biasanya juga terdapat kandang babi. Justru kandang babi itu lebih
besar dari pada tempat tidur mereka. Kadang babi terletak di tengah honai.
Perempuan
dan peliharaannya, babi, juga begitu dekat. Saat berkunjung ke Wamena awal
Agustus, Jawa Pos sempat berkunjung ke rumah adat salah satu suku di Wamena.
Mereka
menunjukkan bagaimana kedekatan perempuan, terutama para ibu, dengan babinya.
“Kalau dipanggil bukan dengan yang punya, babi tidak mau mendekat,” kata Lusi
Lokobal, salah seorang istri ketua suku Asolokobal.
Dulu bahkan
ada tradisi ibu menyusui babinya. Para ibu memperlakukan babi seperti anaknya.
Bahkan, saat festival Lembah Baliem, ada lomba karapan anak babi. Lombanya
cukup unik. Si ibu, yang biasa dipanggil mama, berjalan. Sementara itu, babinya
mengikuti di belakang.
Tradisi
lainnya yang dilakukan permpuan adalah bakt batu. Bakar batu tersebut merupakan
tradisi adat memasak dengan batu. Biasanya dilakukan untuk merayakan sesuatu.
Berpesta. Yang dimasak adalah babi, ubi, dan daun-dauan.
Caranya,
batu dipanaskan di atas bara api. Setelah panas, batu disusun dalam sebuah
lubang. Untuk mengalasi makanan, biasanya digunakan ilalang atau daun-daun. Susunan
pertama yang dimasukkan adalah umbi-umbian. Lalu ditindih batu panas lagi. Di
atasnya ditambah daun-daun seperti daun umbi. Lalu, yang paling atas adalah
daging babi. Setelah itu, lubang ditutup daun serta batu panas lagi. Biasanya
mereka memasak selama satu jam.
Secara
sosial, perempuan Wamena, terutama masih tinggal di pelosok, tidak memiliki
daya tawar dengan laki-laki. Mereka kerap dipaksa menikah, bahkan oleh keluarga
sendiri. David Siet, ketua suku Distrik Pisugi, menunturkan bahwa salah seorang
istrinya ditawarkan oleh keluarga. “Dia masih SMP,” katanya di sela-sela
festival Lembah Baliem.
Perempuan di
Wamena memang tidak memerankan banyak hal penting. Walaupun menjadi penduduk
kelas dua, masih banyak di antara mereka yang tunduk dan menjalani peran
tersebut. (Ferlynda Putri/c19/do)
Sumber: JP- MINGGU 1
OKTOBER2017
Di ketik ulang oleh:
(VAP)