Panglima
darat, laksamana di laut
Bajo
merupakan satu di antara sekian banyak suku di tanah air. Kehadiranya mengisi
setiap lembaran buku putih keberaaman. Mempertegas bahwa indonesia adalah
sepotong surga yang memesona berkat pantulan harmoni.
INILAH hidu .Hidupyang
selalu kami jaga sampai kapan pun jua. Hidup di pulau ini adalah hidup kami.
Hidup yang hanya sekali dapat dirssakan dalam hidup dan kehidupan orang-orang
pulau. Betapa keras dan ganasnya. Namun, hati dan jiawa kami tegar laksana batu
karang.
Dan, kami percaya
kelak dari pulau ini akan lahir anak-anak mimpi yang manis. Putra-putra cahaya
jelita, yang cahayanya begitu besar bagai kejora. Menjadi cahaya matahari pagi.
Menggugah mata dunia.
Itulah narasi penutup penampilan kelompok teater Cemara saat
pembukaan Festival Art Culture 2017 yang
berlangsung di Pulau Sapekan, Sumenep, Jawa Timur, 11 Oktober lalu.
Belasan anak melakoni cerita kehidupan masyarakat suku Bajo.
Ada yang menjadi nelayan, juragan sembako, bandar ikan, ibu rumah tangga,
hingga anak-anak polos yang mengukir mimpi di tengah keterbatasan.
Mereka memerankan karakter-karakter itu dengan sangat apik.
Dialog dengan bahasa (baun) Sama,
bahasa masyarakat suku Bajo, membuat penonton larut dalam setiap alur cerita.
Penonton tertawa saat lucu. Menangis haru bersama semangat
hidup yang dipentaskan. Dan larut dalam duka saat anak-anak itu menceritakan
beratnya kehidupan menjadi nelayan. Termasuk saat perempuan muda menangis
histeris setelah menerima kadar bahwa suaminya meninggal dunia karena diterjang
ombak. Wafat bersama tekad mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup diri dan
keluarganya.
Masyarakat suku Bajo memang identik dengan laut. Maknanya
dalam. Bahkan tak seperti wujudnya. Di laut mereka membuka dan menutup hari.
Tempat merasakan terik matahari dan mendengar nyanyian hujan.
Ia kolam terluas di dunia yang Tuhan sajikan. Juga, untuk
laut, tidak akan pernah cukup waktu untuk membahasnya. Ia buku terpanjang yang
tak pernah tamat dipelajari. Semakin dibaca, semakin banyak yang belum di
pahami tentangnya.
Laut yang menyekolahkan. Laut yang membersarkan anak-anak
mereka masyarakat suku Bejo brdiri tegak menatap langit dengan berani. Di laut
para oarang tua kompak mengais rezeki. Tempat menjodohkan ikhtiar dan doa yang
mereka panjatkan di masjid dan surau.
Bahkan, tak sedikit orang Bajo yang mulai cerita asmaranya
dari laut. Sebab, mayoritas laki-laki menjadi nelayan dan perempuan bekerja
sebagai penjemr ikan. Pandangan pertama hingga niat suci membangun mahliga
rumah tangga terjadi di laut dan punggir-pinggir pantai. Juga, semesta tahu
bagaimana masyarakat Bajo diperlakukan oleh laut dan balasan mereka
memperlakukannya.
“percayalah, yang mengebom atau merusak lingkungan laut itu
pasti bukan orang bajo. Sebab,laut segalanya buat mereka,” kata delegation
proceeding of international conference on bajo/same Zulkifli Azir. Masayarakat
suku bajo sagat mencintai lingkungan dan ala raya yang megitari mereka. Tak heran, semua negara
sangat welkome dengan kedatangan suku bajo. Hasilnya, suku bajo berkembagan
cukup cepat, baik di daerah Asia mau pun beberapa daerah tanah air.
Festival art culuter bajo 2017 di sapeken, menjadi momen
penting bagi masayarakat suku bajo dalam memamerkan segala sesuatu yang mereka
milki. Selain tradisi dan ajarnan agama yang kuat, juga kekayaan budaya,
kesenian, dan kuliner.
Manca misalnya. Sebuahtaria seni beladiri. Manca biasanya
menjadi hiburan rutin saat pesta penikahan atau manikke. Selain itu ada nigal
(tarianmasyarakat has bajo) dan iko iko.
Khusus untuk kuliner, pegunjung festival tak perlu meragukan
rasa dan kandungan gizi dalam setiap makann. Sebab, semua bahan yang di gunakan
murni dari alam. Misalnya sumpin dan sarimendapat, penganan tadisional khas
masyarakat bajo yang terbuat dari pisang. Ada pula apan, baroncon, sangkolok
bandan. Belum lagi aneka makanan berbahan dasar ikan.
Semua makana itu meyehatkan. Seperti kata heddy shari ahimsa
putra dala bukunya, seterukturrisme levi struktur makanan orang suku bajo. Pun
dikenal sehat. Karena maka ikan segar pada pagi, seiang, dan malam.
Bajo endetik dengan laut, tidak berarti mereka terasing
didarad. Contohnya orang yang tingal di pulau sapeke. Saat ini bayak orang
sapeken yang meyambung hidup dan membagun tatana masa depan dikota kota besar. Bahkan,
beberapa di antara meraka menuntut ilmu dan berkerja di luar negeri pakista,
mesir, dan turki.
Memurut hedi seri ahimsa
putra dari hasil percaria di laut tidak selalu mencukupi dan kondisi
alam membuat masyarakat bajo tidak bisa setiap saat berlaut. Karena itu,
sebgaian dari mereka mulai bertani dan mencari pengasila di darat. Pedat
tersebut di kuatkan peryatan zulkifli azir. Menurut dia, beberapa orang bajo
yang tingal dikota belut, malaisia hidupbercocok tanam dan berkuda.”
Makanya orang bajo ini juga di kenal istila panglima di
darat, laksaman di laut paparsuzul. Salah satu sosok kebangan dala sejarah suku
bajo yang benar benar menjadi panglima adalah panglima diki diki memiliki tubu
yang pendek atau dalam bahasa bajodi
sebut didiki. Dia memilki panglima yang di segani kerajaan yang ada di jolo,
pelipina. Kerajan itu memiliki kata sejara dengan kesultana brunai, kesultana
banjar, kesultana bologan dan kesultana kidung.
Sejarah banjanga suku bajo melintasi samutdera itulah yang
membuat vistival arkunturbajo 2017 disapeken di sambut antusias. Tak hanya dari
sapeken. Masarakat dari dua puluh tiga pulau di sekitar kepulawan sapeken pun
turut menjadi saksi lahirnya sejara baru masyarat bajo di pulau terpencil di
ujung timur pulau madura itu.
Bahkan, selai zul yang saat ini menetap di bandung, acara
tersebut juga di hadiri derektur museum negeri sabah. Malaisiya, tuan sentiong
gelet dan dokter candera nurani dari universitas dela vokti perancis. Tak igin
absen dala momen ini penting itu, mantan peyayi cilik agubajo asal mumere
entete azizah turut serta menghibur masarakat dengan tepuang tepuang sahduhnya.
Seperti harapan anak anak suku bajo dalam pentas teater
pembuka festival, telah akan lahir anak anak suku bajo mimpi yang manis di
pulau ini generasi membagakan karena bangga atas paket adiluhun yang diwariskan
nenek monyang mereka. Hadiah tuhan harapan itu dibawah senja bersama usainnya
pergelaran tersebut.(Harul Faisal/c11/dos)
sumber: JP MINGGU 5 NOVEMBER 2017
DIKETIK ULANG OLEH (EK)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar