Selasa, 06 Februari 2018

Maen Pukulan Betawi nyang Kagak Ade Matinye (2-Habis)


                      

           Sarung untuk Salat dan Senjata 

Samurai Jepang punya dua bilah pedang, panjang dan pendek. Para jawara Betawi juga punya senjata. Senjata utama berupa golok yang terselip di pinggang. Senjata kedua adalah sarung. Ya, sarung.

DULU para jawara silat Betawi atau jagoan kampung hidup layaknya masyarakat biasa. Mereka menjadi petani atau dagang keliling. Kadang membawa dua bakul dengan sebilah pikulan. Biasanya dari bilah bambu tebal.

Tetapi, jangan salah sangka atau coba-coba merampok babe-babe yang tengah memanggul pikulan tersebut. Jika terdesak, pikulan itu bisa ditarik dari kaitan bakul dan berubah menjadi senjata. Yang terjadi selanjutnya adalah adegan toya yang berputar-putar menggebuk para penggangu.’’

Penggunaan toya ini adalah pengaruh dari kungfu. Dulu orang Betawi hidup berdampingan dengan etnis Tionghoa di Betawi di Batavia,’’ cerita Dadang Kurnia, guru silat di Perguruan Silat Pusaka Djakarta (PSPD), kepada jawa pos kemarin (27/1).

Dadang sedang melatih puluhan santri di Pondok Pesantren An-Nuriyah,  Cipedak, Jakarsa, Jakarta Selatan. Bersama dengan Muhammad Soleh dan beberapa pelatih yang blain. Diawasi oleh Ketua Dewan Pelatih PSPD Memet.

Pakaian para tradusional para pendekar silat Betawi juga belum banyak berubah sejak zaman kolonial. Kaus oblong dengan rompi tanpa kancing. Lalu, celana pangsi. Diikata dengan gesper tebal yang  dikaitkan dengan ring besi. Biasanya berwarna hijau.

Untuk acara-acara resmi semacam aneka festival, palang pintu (tradisi berbalas pantun sebelum pernikahan), dan perhelatan lain, pakaian tersebut dilengkapi serong.

Serong adalah ssecarik kain bermotif batik betawi. Ia dililitkan sekeliling pinggang, lantas diiikata dengan gesper. Mirip sarung. Atau kain jarit. Tetapi, panjangnya hanya sedengkul.

Untuk alas kaki, biasanya para pesilat mengenakan sandal karet yang ringan. Mereka juga tidak alpa menyelipkan sebilah golok di pinggang. Panjangnya sehasta atau ke ujung tangan hingga siku. Aksesori terakhir adalah sehelai sarung yang diselampangkan di leher.

Dulu di jalanan Batavia, tidaka mengenali para pendekar silat. Mereka berpakaian dengan aksesori seprti tersebut. Namun, ada perbedaan di bagian kepala.

Pendekar muda yang bangga dan arogan biasanya mengenakan ikat kepala seperti udeng. Biasanya mereka berprofresi sebagai centeng. Jadi penjaga di kebun-kebun dan mansion milik pejabat dan orang-orang kaya.

Sementara itu, ada juga bae-babe yang berkopiah atau berpeci hitam. Kalangan tersebut lebih bijak, religius, dan biasanya punya ilmu tinggi.’’ Sebenarnya kopiah itu yang buat salat. Biasanya yang pakai kopiah  sudah terhitung jawara dan lebih senior,’’ terang Dadang.

Kalau golok, sih, bisa dimengerti bahwa itu adalah senjata, sarung bisa digunakan. Untuk menyerang, tinggal dilencutkan saja. Mirip Si Pitung yang menghajar gerombolan kompeni. Atau sabetkan saja ke muka lawan. Bahkan, bisa juga untuk merebut senjata lawan.’’ Begitu di bacok, dililit pakai sarung, goloknya pasti lepas,’’ terang Memet.

Tentu saja, senjata utama seorang pendekar adalah tangan dan kakinya, serta ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Di luar ciri-ciri tersebut, biasanya ada atribut lain yang kaitanya dengan sprittual. Memet menyebut beberapa contoh. Misalnya, cincin, jimat kallung (isim), dan gelang akar bahar.

Soal pakain, orang Betawi memang lebih suka warna-warna meriah dan mencoolok. Namun, yang paling umum pakain silat Betawi adalah hitam dan merah.

Waktu itu, kata Memet, orang Betawi kagum melihat pakain dan atribut orang-orang Tionghoa yang serba meriah. Selanjutnya, warna pakaian berkembang bermacam-macam. Ada yang bernuansah hijau, merah, biru bahkan ungu.

PSPD sendiri memilih tetap pada warna tradisional hitam. Mengapa ? ‘’ ya biar kalau kotor gampang dicuci,’’ seloroh Dadang, lantas terkekeh.
Masuk akal juga...(Taufiqrahman/c4/dos)
Sumber : JP MINGGU 28 JANUARI 2018
DIKETIK ULANG OLEH :(SR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar