Rabu, 31 Januari 2018

Dhurung. Lumbung Multifungsi Khas Bawean



Simpan Padi hingga Jadi Tempat Ngaji

Dhurung bukan sekedar bangunan pelengkap bagi sebagian rumah warga Bawean. Pulau yang berjarak sekitar 120 kilometer di utara Gresik, Jawa Timur. Ia bisa jadi tempat berkumpul dan menerima tamu. Balai tanpa dinding itu juga wujud ketahanan pangan Pulau Purtri-sebutan Bawean.


SAAT  ombak tenang kapal cepat dari Pelabuhan Gresik harus menempuh waktu  tiga jam untuk mencapai Pulau Bawean. Ada dua hingga tiga kali pelayaran setiap pekan. Barang-barang dari Jawa dengan mudah keluar masuk. Termasuk bahan makanan.

Namun, ratusan tahun tidak demikian. Misalnya saat banyak kapal dagang Eropa yang singgah ke Bawean untuk mengisi perbekalan. Saat itu Bawean sudah jadu pulau mandiri. Stok padi aman untuk penduduk satu pulau. Bahkan mencukupi pendatang.

Dahulu warga menyimpan padi hasil panen  di sebuah dhurung, bangunan dengan atap limasan. Khas jawa. Atap bangunan itu di desain dua kali lipat lebih luas dari pada balai-balai yang ada di bawahnya. Sengaja. Biar bisa menampung padi sebanyak-banyaknya.

Dhurung milik Tofel, saya seorang warga Bawean yang berprofresi sebagi penata rambut, punya ukuran langit-langit 5 x 10 meter. Sedangkan ukuran amben tempat duduk hanya 2 x 6 meter.

Sayang, dhurung semakin sulit di jumpai. Ada yang rusak karena termakan usia. Ada juga yang dijual kepada kolektor. Tapi, sisa-sisa peninggalan arsitektur Bawean itu masih bisa di jumpai di Desa Pudakit Timur. Daerah perbukitan di atas hamparan sawah nan hijau. Dari pelabuhan Sangkapura, perjalan hanya 10 menit walau naik maotor. 

Tovel adalah  warga Pudakit Timur yang masih melestarikan dhurung. Bahkan, dia punya empat dhurung. Ia, keluarganya punya banyak sawah. Karena itu mereka harus punya banyak dhurung agar padi yang di panen bisa disimpan hingga musim panen berikutnya. 

Sayang, salah satu dhurung miliknya sudah rusak makan usia. Sudah ‘’ di mutilasi’’. Rangkaian kayu-kayu dan genting dhurung terronggok di  depan rumahnya.’’ Sekarang tinggal tiga. Yang terisi padi cuman satu,’’ jelas Tovel kepada Jawa Pos  pertengahan mei lalu. 

Sebagian besar kayu dhurung yang dia gunakan untuk menyimpan beras iitu ber cat merah. Kelihat ukiran-ukiran bermotif bunga dan dedaunan. Ukiran tersebut terdapat di bagian tiang atau pang-pang, langit-langit, dan jelepang atau penghalang tikus. Semakin rumit ukiranya, semakin tinggi status sosial pemilik.

Bagian lantai dhurung terdiri atas bilah-bilah kayu yang di susun secara simetris. Di tepian amben tersebut, terdapat papan kayu, penguat yang disebut penggepak. Dari amben itu, terlihat lantai tanah. Biasanya, bagian bawah dhurung di gunakan sebagai kandang ayam atau tempat menyimpan kayu bakar.

Jelipang adalah bagian penting. Fungsinya menghalangi tikus yang hendak naik dari empat tiang penyangga. Desain jelipang  bermacam-macam, sesuai keinginan pemilik. Dhurung milik Tovel memilki jelipang  berbentuk bundar. Namun, ada juga jelipang yang berbentuk kotak atau persegi panjang. Meski bentuknya berbeda, funsinya tetap sama. 

Untuk memasuk ke gudang padi, terdapat pintu berukuran satu meter persegi. Ada gembok kuno yang mengunci pintu itu sudah penuh karat. Tapi gembok bertulisan Baldur tersebut masih berfungsi normal. Pegasnya masih berfungsi hingga masih mengeluarkan bunyi klik saat gembok di buka. 

Tofel naik melalui tanga. Di ruangan itu, masih ada belasan karung padi. Hasil panen tahun lalu masih tersisa banyak. Masih awet dan bisa di komsumsi. Ruangan itu tertutup cukup rapat, tapi tidak pengap. Angin dapat masuk melaui sela-sela genting. Itulah yang membuat padi dapat bertahan lama.
Musuh dhurung adalah rayap. Karena itulah, kaki-kaki bangunan tidak di tancapakan langsung ke tanah. Terdapat batu pijakan agar lebih  kuat, kaki dhurung di semen.

Dhurung  yang bagus terbuat dari kayu ulin. Kayu dari kalimantan itu bisa awet meski tidak dirawat secara khusus. Salah satu dhurung milik Tofel dibuat dari kayu ullin. Itulah dhurung pertama keluarganya.

Tempat tersebut dulu sering di pakai untuk mengaji orang tua hingga buyutnya. Hinggga kini, tempat itu masih sering di gunakan untuk syukuran. Di beberapa desa, dhurung juga di pakai untuk menggelar pernikahan.’’ Jadi , fungsinya banyak sekali. Makanya, saya pertahankan terus,’’ ujar pria kelahiran Februari 1969 tersbut.

Setiap langgan salon Tovel yang mengantri biasanya menunggu di dhurung. Terkadang mereka sampai ketiduran karena saking sejuknya tempat itu. Agar pelanggan yang mengantri semakin kerasan, Tovel menyediakan bantal. (Salaman Muhiddin/c11/dos)
Sumber : minggu 30 juli 2017
Di ketik ulang oleh : (SR)    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar