Simpan Padi hingga Jadi Tempat Ngaji
Dhurung
bukan sekedar bangunan pelengkap bagi sebagian rumah warga Bawean. Pulau yang
berjarak sekitar 120 kilometer di utara Gresik, Jawa Timur. Ia bisa jadi tempat
berkumpul dan menerima tamu. Balai tanpa dinding itu juga wujud ketahanan
pangan Pulau Purtri-sebutan Bawean.
SAAT ombak tenang kapal cepat dari Pelabuhan Gresik
harus menempuh waktu tiga jam untuk
mencapai Pulau Bawean. Ada dua hingga tiga kali pelayaran setiap pekan.
Barang-barang dari Jawa dengan mudah keluar masuk. Termasuk bahan makanan.
Namun, ratusan tahun tidak demikian. Misalnya saat banyak
kapal dagang Eropa yang singgah ke Bawean untuk mengisi perbekalan. Saat itu
Bawean sudah jadu pulau mandiri. Stok padi aman untuk penduduk satu pulau.
Bahkan mencukupi pendatang.
Dahulu warga menyimpan padi hasil panen di sebuah dhurung,
bangunan dengan atap limasan. Khas jawa. Atap bangunan itu di desain dua
kali lipat lebih luas dari pada balai-balai yang ada di bawahnya. Sengaja. Biar
bisa menampung padi sebanyak-banyaknya.
Dhurung milik
Tofel, saya seorang warga Bawean yang berprofresi sebagi penata rambut, punya
ukuran langit-langit 5 x 10 meter. Sedangkan ukuran amben tempat duduk hanya 2
x 6 meter.
Sayang, dhurung semakin
sulit di jumpai. Ada yang rusak karena termakan usia. Ada juga yang dijual
kepada kolektor. Tapi, sisa-sisa peninggalan arsitektur Bawean itu masih bisa
di jumpai di Desa Pudakit Timur. Daerah perbukitan di atas hamparan sawah nan
hijau. Dari pelabuhan Sangkapura, perjalan hanya 10 menit walau naik maotor.
Tovel adalah warga
Pudakit Timur yang masih melestarikan dhurung.
Bahkan, dia punya empat dhurung. Ia,
keluarganya punya banyak sawah. Karena itu mereka harus punya banyak dhurung agar padi yang di panen bisa
disimpan hingga musim panen berikutnya.
Sayang, salah satu dhurung
miliknya sudah rusak makan usia. Sudah ‘’ di mutilasi’’. Rangkaian
kayu-kayu dan genting dhurung terronggok
di depan rumahnya.’’ Sekarang tinggal
tiga. Yang terisi padi cuman satu,’’ jelas Tovel kepada Jawa Pos pertengahan mei
lalu.
Sebagian besar kayu dhurung
yang dia gunakan untuk menyimpan beras iitu ber cat merah. Kelihat
ukiran-ukiran bermotif bunga dan dedaunan. Ukiran tersebut terdapat di bagian
tiang atau pang-pang, langit-langit,
dan jelepang atau penghalang tikus.
Semakin rumit ukiranya, semakin tinggi status sosial pemilik.
Bagian lantai dhurung
terdiri atas bilah-bilah kayu yang di susun secara simetris. Di tepian amben
tersebut, terdapat papan kayu, penguat yang disebut penggepak. Dari amben itu, terlihat lantai tanah. Biasanya, bagian
bawah dhurung di gunakan sebagai
kandang ayam atau tempat menyimpan kayu bakar.
Jelipang adalah
bagian penting. Fungsinya menghalangi tikus yang hendak naik dari empat tiang
penyangga. Desain jelipang bermacam-macam, sesuai keinginan pemilik. Dhurung milik Tovel memilki jelipang berbentuk bundar. Namun, ada juga jelipang yang berbentuk kotak atau
persegi panjang. Meski bentuknya berbeda, funsinya tetap sama.
Untuk memasuk ke gudang padi, terdapat pintu berukuran satu
meter persegi. Ada gembok kuno yang mengunci pintu itu sudah penuh karat. Tapi
gembok bertulisan Baldur tersebut masih berfungsi normal. Pegasnya masih
berfungsi hingga masih mengeluarkan bunyi klik saat gembok di buka.
Tofel naik melalui tanga. Di ruangan itu, masih ada belasan
karung padi. Hasil panen tahun lalu masih tersisa banyak. Masih awet dan bisa
di komsumsi. Ruangan itu tertutup cukup rapat, tapi tidak pengap. Angin dapat
masuk melaui sela-sela genting. Itulah yang membuat padi dapat bertahan lama.
Musuh dhurung
adalah rayap. Karena itulah, kaki-kaki bangunan tidak di tancapakan langsung ke
tanah. Terdapat batu pijakan agar lebih
kuat, kaki dhurung di semen.
Dhurung yang bagus terbuat dari kayu ulin. Kayu dari
kalimantan itu bisa awet meski tidak dirawat secara khusus. Salah satu dhurung milik Tofel dibuat dari kayu
ullin. Itulah dhurung pertama
keluarganya.
Tempat tersebut dulu sering di pakai untuk mengaji orang tua
hingga buyutnya. Hinggga kini, tempat itu masih sering di gunakan untuk
syukuran. Di beberapa desa, dhurung juga
di pakai untuk menggelar pernikahan.’’ Jadi , fungsinya banyak sekali. Makanya,
saya pertahankan terus,’’ ujar pria kelahiran Februari 1969 tersbut.
Setiap langgan salon Tovel yang mengantri biasanya menunggu
di dhurung. Terkadang mereka sampai
ketiduran karena saking sejuknya tempat itu. Agar pelanggan yang mengantri
semakin kerasan, Tovel menyediakan bantal. (Salaman Muhiddin/c11/dos)
Sumber : minggu 30 juli 2017
Di ketik ulang oleh : (SR)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar