Jumat, 26 Januari 2018

Prosesi Tahun Baru ala Warga Telaga Ngebel, Ponorogo



WAKTU mendekati tengah malam, rabu (20/9). Sorot kedua mata sa,kun masih terlihat tajam. Berdiri mengenakan celana kolor, lelaki berusia 54 tahun itu tampak tegap Dinginnya air telaga Ngebel hanya di tanggapi nyengir.


“ sa,kun bergegas mengambil gentek buruk-buruk, rakit transportasi tradisional itu ditarik dari jarak 15 meter perahu didekatkan ke rombomgan kekepuh Desa Ngebel yang merapat ke dermaga.

“nyuwun tulung pak sa,kun sing ati-ati “ tutur salah seeorang tetua yang megenakan baju adat jawa dengan blangkonnya. Sa,kun hanya mengangguk. Dia mnerima buceng alit (kecil) dengan hati hati tumpeng kecil dengan nasik warna merah di letakan di getek.

Wajar kalau tetua mengingatakan. Sebab, tugas sa’kun malam itu cuckup berat. Tidak sembarang orang mamapu melakun tugas trsebut. Dia punya kewajiban melarungkan tumpeng ketengah telaga. Sa’kun menjadi tudan masyarakat delapan desa di kaki Gunung Wilis.

Meskipun, baginya, tugas itu sangat enteng. Sudah 24 tahun dia menjalani itu. Tidak memerlukan alat atau pelampung. Dia cukup mengatur napas untuk berenang di telaga yang kedalamannya 20 meter lebih itu. Aksinya mendorong getek bambu menjadi totonan.

Ucapan doa terlontar mengiringi kepergian Sa’kun ke tengah telaga. Suasana khusyuk dan hening terasa tumpeng di dorong ke tengah perairan. Tepat, detik itu, semua masyarakat berdoa agar di jauhkan dari bencana. Mereka berharap agar penjaga telaga yang sering disebut  danyangan tidak marah. Doa keselamatan di panjatkan kepada pencipta.

Menurut Sa’kun, ritual larungan di Telaga Ngebel sebenarnya identik dengan proses memanjatkan doa. Masyarakat bersyukur telah di beri keselamtan dan kekayaan. Apalagi, hasil panen setiap tahun berlimpah.

Proses larungan di kota riong tidak muncul secara ujuk-ujuk. Zaman dahulu, telaga yang Ngembel kerap memakan korban. Banyak pengunjung kejebur ke perairan dan tewas. Masyarakat lantas memproses banyaknya musibah yang terjadi itu.

“Para ketua lantas bermusyawarah. Kami sepakat memberikan sesajen kepada pejaga telaga, “Papar Sa’kun sambil berganti baju. Kali ini dia melepaskan pakain dat jawa. Kaosnya merah putih tertutup pakain hitam khas warok ponorogo. Udengnya melekat dikepala.

Sejak 1993 hungga sekarang, larungan terus di uri-uri.prosesi tersebut mengundang ribuan wisatawan setiap tahun. Bahkan banyk  turis datang dari luar pulau. Sejumlah ritual mewarnai kegiatan larung dan purak bunceng.

Larungan di awali penymbelihan wedus (kambing). Bukan sembarang ternak. Melainkan wedua kandit yang di anggap sebagai kekayaan berharga masyarakat. Ternak disembelih siang sebelum malam suro.

Proses berlanjutan pada malam harinya. Sebelum kalender berganti pada tetua mengadakan kegiatan tiraktan. Kegiatan kenduren digelar di pendapat kecamatan. Dalam acara tersebut, para sespuh terpilih tampil memberikan ceramah. Piulang menggunakan bahasa jawa karma alus.

“Para sespuh selalu mengjak berbuat baik. Menjaga hawa nafsu danmenolong sesama,”ungkap kordinator acara larungan hartono. Prosesi tirakatan berlanjut ke seribu dian (obor permanen). Seribu pemuda berjalan kaki mengelilingi telaga sepanjang 5,5 km. Mereka membawa oncor (obor yang bisa di tenteng).

Para pemuda tidak boleh nakal saat berjalan mereka harus menjaga lisan. Diam sambil berdoa dalam hati. Mereka harus melakoni lampah ratri sambil menyucikan pikiran dalam kalbu. Tahun baru harus lebih baik.

Ritual melarung buceng alip mengakiri acara malam hari detik-detik itu paling menarik perhatian masyarakat kembalinya sa’kun ke dermaga membuat legah masyarakat antusias menyaksikan, meski suasana gelap dengan dingin airnya telaga.

Keesokan harinya prosesi larungan labih meriyah. Dua tumpeng besar di siapkan. Bunceng lanang untuk di larung, buceng wadon di berikan kepada masyarakat. Ritual di iringi kendhing (musik tradisonal jawa) dengan sinden (penyanyi)

“Sebelum di larung atau di purak, bunceng harus diarak keliling. Supaya masyarakat bisa melihatnya,” ungkap hartono. Acara larungan satu suro melalui sebuah upacra. Setelah dia arak, dua tumpeng setinggi dua meter itu lantas di pisah.

Bunceng lanang di larung ketengah telga. Nah, bunceng wadon di bawa ke tengah jalan di pinggir telaga. Kali ini Sa’kun di percaya lagi membawanya. Dia di bantu masyarakat setempat menderung tumpeng besar menengah (Eko Hendri Saiful/c4/dos)
Sumber: JP MINGGU 8 OKTOBER 2017
Di ketik ulang oleh: (EK)        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar