Jumat, 19 Januari 2018

Ruatan Potong Rambut Gimbal ala Anak-anak Dieng (1)



Saat “Sang Penjaga” Menitis


Kemeriahan prosesi pemotongan rambut gimbal anak-anak Dataran Tonggo Dieng, Banjarnegara, Jateng, tak mengurangi kesaklarannya. Minggu, (6/8) Sembilan anak mengikuti ruwatan tersebut di kompleks Candi Arjuna.

GIMBAL. Gembel. Dreadlock, kata bahasa Inggris. Kesannya pemberontakan. Kumuh. Enggak terurus. Hippies. Tapi, bagi warga Daratan tinggi Dieng, rambut gimbal tak meresahkan. Justru kebanggaan.


Bagi mereka, anak berambut gimbal disebut anak gembel atau anak bajang. Ada yang gimbalnya merata di seluruh rambut alias gimbal makutha. Ada yang hanya sebagian rambut yang kusut dan menyatu (gimbal pare).

Namun, rambut anak-anak itu tak menjadi gimbal karena disengaja. Bukan karena jorok. Bukan karena ogah keramas. Tapi, tiba-tiba saja rambut itu kusut dan kaku.

Tak semua anak Dieng punya rambut gimbal. Hanya beberapa. Itu pun, tak bias diperkirakan siapa yang bakal berambut gimbal. Sering kali rambut gimbal itu sudah kentara saat anak berusia setahun. Ada juga yang punya tanda-tanda gimbal sejak lahir. Dan gimbal itu pula yang menjadi salah satu identitas masyarakat Dieng.

Mbah Sumanto, pemangku adat, mengatakan bahwa rambut gimbal muncul dengan disertai demam tinggi. Anak akit berhari-hari. Tanpa sebab. “Dokter tidak dapat menjelaskan itu. Diberi obat pun tidak mempan,” ujar Mbah Sumanto. Tapi, demam itu seketika lenyap saat rambut gimbal muncul.

Warga percaya, anak-anak gimbal adalah titisan “penjaga” wilayah Dieng. Yakni DEWI Rara Ronce yang menitis kepada anak perempuan dan Kiai Kaladete yang menitis kepada anak cowok.

Karena itu, anak-anak gimbal terbilang istimewa. Permintaan apapun dari anak-anak tersebut harus dituruti. Terutama sebelum rambut gimbal itu dipotong saat berusia 5-6 tahun. “Usia sudah dianggap besar,” kata pria 69 tahun tersebut. Bagaimana kalau rambut itu di biarkan gimbal sampai anak dewasa? Biar jadi seperti penyanyi reggae Bob Marley atau mendiang Mbah Surip? Mbah Sumarto bilang, anak-anak itu bisa jadi gila saat dewasa. “Itu kalau dibiarkan dan tidak dipotong saat kecil,” katanya.

Karena itu, prosesi pemotongan rambut gimbal pun menjadi penting. Tak sembarangan. Ada rirualnya. Itulah yang terlihat pada ruatan Sembilan anak rambut gimbal awal bulan ini.

Tiga hari sebelum ruwatan, para pemangku adat Nampak tilas di 32 titik di sekitar lokasi pemotongan rambut gimbal. Mereka minta izin dan perlindungan agar pemotongan rambut lancer.

Pada hari H, anak-anak gimbal berarak dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Sejak pukul 09.00, mereka dikirab mulai rumah Mbah Sumanto menuju kompleks Candi Arjuna. Anak-anak tua masing-masing. Tarian dan music tradisional mengiringi kirab tersebut.

Pemangku adat bersama sesepuh masyarakat berjalan di barisan paling depan. Di belakangnya, ada kereta dan mobil yang mengangkut sajian makanan. Wujudnya adalah nasi tumpeng, minuman 17 warna, buah-buahan, daging ayam, dan beberapa lainnya. Berikutnya lagi adalah kelompok anak-anak yang akan diruwat. Juga, ekor barisan berisi rombongan penari serta pemusik.

Mereka berarak sepanjang 1,5 kilometer menuju kompleks Candi Arjuna. Segala kemeriahan dan perhatian pun dipusatkan ke arak-arakan tersebut. Jalanan pun macet hingga pukul 12.00.

Kirab itu lalu berhenti di Sedang Sedayu dari Sendang Maerakaca. Di tempat tersebut, sesepuh adat mengambil air suci untuk proses jamasan.

Setelah itu, iringan-iringan berlanjut hingga kompleks Candi Arjuna. Tiba di sana, Sembilan anak di dudukkan di panggung. Di depan mereka, ada ribuan wisatawan yang menonton. Anak-anak itu dijamas atau dimandika dengan air suci. Rambut dan kepala mereka diperciki air suci. Yang men-jamas kali pertama adalah pemangku adat. Setelah itu para tokoh masyarakat.

Seusai jamasan, anak-anak kembali diarak menuju pusat kompleks candi. Di situlah rambut gimbal mereka akan dipotong. Dua hiasan janur diletakkan di sisi kanan-kiri candi. Di tengah-tengahnya ada payung besar. Nyanyian tembang Jawa mulai terdengar menemani selama pemotongan rambut gimbal.

Sebagaimana jamasan, pemotongan didahului Mbah Sumarto. Rambut gimbal yang sudah dipotong lantas dimasukkan ke kendi yang kemudian ditutup rapat. Kendi tersebut akan dilarung dan dihanyutkan ke Telaga Warna. “Kita larungkan, seperti mengembalikan kepada yang punya,” tambah Mbah Sumanto. (BrianikaIrawati/c11/dos)

Sumber: JP Minggu 20 Agustus 2017
diketik ulang oleh: (vap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar