Saat “Sang
Penjaga” Menitis
Kemeriahan
prosesi pemotongan rambut gimbal anak-anak Dataran Tonggo Dieng, Banjarnegara,
Jateng, tak mengurangi kesaklarannya. Minggu, (6/8) Sembilan anak mengikuti
ruwatan tersebut di kompleks Candi Arjuna.
GIMBAL.
Gembel. Dreadlock, kata bahasa Inggris. Kesannya
pemberontakan. Kumuh. Enggak terurus. Hippies. Tapi, bagi warga Daratan tinggi
Dieng, rambut gimbal tak meresahkan. Justru kebanggaan.
Bagi mereka, anak berambut gimbal disebut
anak gembel atau anak bajang. Ada yang gimbalnya merata di seluruh rambut alias
gimbal makutha. Ada yang hanya sebagian rambut yang kusut dan menyatu (gimbal
pare).
Namun, rambut anak-anak itu tak menjadi
gimbal karena disengaja. Bukan karena jorok. Bukan karena ogah keramas. Tapi,
tiba-tiba saja rambut itu kusut dan kaku.
Tak semua anak Dieng punya rambut gimbal.
Hanya beberapa. Itu pun, tak bias diperkirakan siapa yang bakal berambut
gimbal. Sering kali rambut gimbal itu sudah kentara saat anak berusia setahun.
Ada juga yang punya tanda-tanda gimbal sejak lahir. Dan gimbal itu pula yang
menjadi salah satu identitas masyarakat Dieng.
Mbah Sumanto, pemangku adat, mengatakan
bahwa rambut gimbal muncul dengan disertai demam tinggi. Anak akit berhari-hari.
Tanpa sebab. “Dokter tidak dapat menjelaskan itu. Diberi obat pun tidak
mempan,” ujar Mbah Sumanto. Tapi, demam itu seketika lenyap saat rambut gimbal
muncul.
Warga percaya, anak-anak gimbal adalah
titisan “penjaga” wilayah Dieng. Yakni DEWI Rara Ronce yang menitis kepada anak
perempuan dan Kiai Kaladete yang menitis kepada anak cowok.
Karena itu, anak-anak gimbal terbilang
istimewa. Permintaan apapun dari anak-anak tersebut harus dituruti. Terutama
sebelum rambut gimbal itu dipotong saat berusia 5-6 tahun. “Usia sudah dianggap
besar,” kata pria 69 tahun tersebut. Bagaimana kalau rambut itu di biarkan
gimbal sampai anak dewasa? Biar jadi seperti penyanyi reggae Bob Marley atau
mendiang Mbah Surip? Mbah Sumarto bilang, anak-anak itu bisa jadi gila saat
dewasa. “Itu kalau dibiarkan dan tidak dipotong saat kecil,” katanya.
Karena itu, prosesi pemotongan rambut
gimbal pun menjadi penting. Tak sembarangan. Ada rirualnya. Itulah yang
terlihat pada ruatan Sembilan anak rambut gimbal awal bulan ini.
Tiga hari sebelum ruwatan, para pemangku
adat Nampak tilas di 32 titik di sekitar lokasi pemotongan rambut gimbal.
Mereka minta izin dan perlindungan agar pemotongan rambut lancer.
Pada hari H, anak-anak gimbal berarak
dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Sejak pukul 09.00, mereka dikirab mulai
rumah Mbah Sumanto menuju kompleks Candi Arjuna. Anak-anak tua masing-masing.
Tarian dan music tradisional mengiringi kirab tersebut.
Pemangku adat bersama sesepuh masyarakat
berjalan di barisan paling depan. Di belakangnya, ada kereta dan mobil yang
mengangkut sajian makanan. Wujudnya adalah nasi tumpeng, minuman 17 warna,
buah-buahan, daging ayam, dan beberapa lainnya. Berikutnya lagi adalah kelompok
anak-anak yang akan diruwat. Juga, ekor barisan berisi rombongan penari serta
pemusik.
Mereka berarak sepanjang 1,5 kilometer
menuju kompleks Candi Arjuna. Segala kemeriahan dan perhatian pun dipusatkan ke
arak-arakan tersebut. Jalanan pun macet hingga pukul 12.00.
Kirab itu lalu berhenti di Sedang Sedayu
dari Sendang Maerakaca. Di tempat tersebut, sesepuh adat mengambil air suci
untuk proses jamasan.
Setelah itu, iringan-iringan berlanjut
hingga kompleks Candi Arjuna. Tiba di sana, Sembilan anak di dudukkan di
panggung. Di depan mereka, ada ribuan wisatawan yang menonton. Anak-anak itu
dijamas atau dimandika dengan air suci. Rambut dan kepala mereka diperciki air
suci. Yang men-jamas kali pertama adalah pemangku adat. Setelah itu para tokoh
masyarakat.
Seusai jamasan, anak-anak kembali diarak
menuju pusat kompleks candi. Di situlah rambut gimbal mereka akan dipotong. Dua
hiasan janur diletakkan di sisi kanan-kiri candi. Di tengah-tengahnya ada
payung besar. Nyanyian tembang Jawa mulai terdengar menemani selama pemotongan
rambut gimbal.
Sebagaimana jamasan, pemotongan didahului
Mbah Sumarto. Rambut gimbal yang sudah dipotong lantas dimasukkan ke kendi yang
kemudian ditutup rapat. Kendi tersebut akan dilarung dan dihanyutkan ke Telaga
Warna. “Kita larungkan, seperti mengembalikan kepada yang punya,” tambah Mbah
Sumanto. (BrianikaIrawati/c11/dos)
Sumber: JP Minggu 20 Agustus 2017
diketik ulang oleh: (vap)
diketik ulang oleh: (vap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar