Gendang
Bidadari, Pemersatu Tiga Raja
Gadis cantik
itu bernama Wela Lowe. Artinya, bunga yang tengah mekar. Kulitnya putih bening.
Jika terpapar cahaya bulan, pantulannya berpilin tinggi ke langit.
Sampai-sampai terlihat dari seberang lautan. Berkat pengorbanannya, perseteruan
tiga raja reda, masa penjajahan berakhir, dan masyarakat Manggarai bersatu di
bawah bendera tunggal, Todo.
TODO Lebih
jarang di kunjungi. Mungkin karena sudah tidak alami lagi. Bicara soal desa
adat, para turis biasanya lebih suka menuju Wae Rebo, Verbo, ataupun desa-desa
Megalithikum di Bena, Bajawa, Kabupaten Manggarai Timur.
Kehidupan masyarakat di
desa-desa tersebut masih alami. Rumah adat (Niang)-nya
masih tegak berdiri, ornamennya masih utuh, lesung masih berbunyi setiap pagi,
para perempuan pun masih setia menenun kain.
Sementara Todo sudah berubah menjadi sebuah
perkampungan modern. Bentuk rumah penduduk tidak jauh berbeda dengan di Pulau
Jawa, misalnya. Ditambah dengan penetapan Todo sebagai situs wisata, jalan
mulai di paving, pondok-pondok bambu didirikan, serta penginapan di bangun
untuk memanjakan para pengunjung.
Todo terletak di kecamatan Satar Mese Utara,
sekitar 40 km dari kota Kecamatan Ruteng di Kabupaten Manggarai, NTT. Untuk
mencapai di desa ini, perlu di tempuh 5 jam perjalanan darat dari Kota
Pelabuhan Labuan Bajo disisi barat Pulau Flores. Menyusuri kelok-kelok jalan
trans-Flores. Bergunung dan berjurang, di beberapa bagian, kondisi jalan rusak.
Tapi, dari seluruh desa adat wisata, Todo
menyimpan sejarah besar. Dari tempat itulah Manggarai lahir. Siapa pun tau
bahwa semua blueprint masyarakat
Manggarai tersimpan rapat dalam persemayaman bisu formasi Sembilan Niang Todo.
Lama tidak di rawat, Sembilan niang itu nyaris ambruk. Empat niang
terbesar masih sempat di selamatkan dan masih berdiri hingga kini. Lima sisanya
dalam proses rekontruksi. Fungsi niang kini
menjadi semacam monumen, bukan lagi tempat tinggal.
Masyarakat Manggarai sudah terbentuk setidaknya sejak abad ke-15
saat Portugis datang ke Nusantara. Namun, baru resmi bersatu menjadi sebuah
kerajaan pada masa raja ketiga, Jama. Akar sejarahnya agak tercecer dengan
berbagai versi. Garis waktu suksesi kerajaan baru terekam pada masa raja
kelima, Tamur, yang naik takhta pada 1914.
Sebelum era Jama, wilayah Flores masih berupa tanah
jajahan dua kerajaan besar. Koloni kerajaan Bima di barat serta Koloni
Kesultanan Goa di timur. Di Timur Flores sendiri berdiri beberapa kekerajaan
kecil yang terus menerus terlihat peperangan.
Todo-Pongkor merupakan satu dari kerajaan kecil yang di pimpin oleh seorang adak. Seteru utama mereka adalah Adak
Cibal. Meskipun pernah di serang dan semua niang-nya
di bakar, Todo terbukti mampu bertahan dan menjadi klan dominan. Namun, mereka
benar-benar bersatu berkat pengorbanan Putri Nggerang.
“Maka dari itulah, Loke Nggerang di anggap
sebagai simbol pemersatu seluruh Manggarai,” ujar Agustinus Bandung, ketua
pemangku adat yang juga keturunan ke-10 raja Todo, di ruang tamunya saat koran
ini berkunjung Juli lalu. Agus bercerita bahwa tiga raja sangat ingin
mendapatkan hati Putri Nggerang…
Wela Lowe dimitoskan sebagai seorang keturunan
bidadari. Ada beragam versi tentang asal usulnya. Satu sebab karena sang putri
begitu cantik dengan kulitnya yang bening (nggerang).
Raja Bima, Mori Dima, diceritakan terkesima
dengan cahaya yang memancar dari ujung Timur Pulau Flores. Cahaya yang di
sebut-sebut sebagai cahaya bulan yang di pantulkan dari kulitnya.
Versi lain menceritakan bahwa di desanya,
Ndoso, Putri Nggerang kerap muncul dan hilang di balik hutan. Kemampuan gaib
semacam ini di peroleh dari perkawinan sang ibu, Hendang, dengan makhluk halus (darat).
Versi Agus sebagai ketua dewan pemangku adat
Todo, ibunda Wela Lowe menikah dengan seorang India. Sang suami pergi
meninggalkan Hendang saat sedang hamil. Pesan suaminya, jika anak yang baru
lahir adalah laki-laki, dia wajib di besarkan. Namun, jika yang lahir
perempuan, wajib di bunuh.
Khawatir akan pesan suaminya, Hendang kabur ke
Flores, dengan menguntip seorang petugas pajak yang baru saja selesai
menyetorkan pajak ke Kerajaan Bima. Wela Lowe tumbuh dalam perawatan ibunya.
Warta tentang kecantikannya segera menyebar ke penjuru Flores.
Baik Mori Dima, adak Todo, Jama serta raja Goa,
masing-masing mengirim utusannya untuk melamar putri Nggerang. Tiga-tiganya di
tolak. Sangat popular cerita rakyat yang menuturkan bahwa Mori Dima mengirim
kutukan yang membuat mendung gelap bergulung-gulung menyelimuti langit Manggarai.
Sangking marahnya.
Karena sama-sama di tolak, kata Agus, ketiganya
pun memutuskan untuk “meminang” sang putri dengan cara kekerasan. “Siapapun
yang berehasil mendapatkan putri Ngggerang, bagaimanapun, berhak menguasi
Manggarai,” tuturnya.
Kalimat “bagian mana pun” ini pahami betul oleh
Jama sebagai sebuah kesempatan. Berperang dengan dua raja besar berarti cari
mampus. Jama kemudian mengitrimkan salah seorang utusannya (dalam beberapa
keterangan, utusan nya itu adalah seorang komengkaba
atau camat) untuk m,embunuh Wela Lowe.
Perjanjian adalah perjanjian raja Bima maupun
raja Gowa mengakui bahwa Jama telah berhasil “mendapatkan” Wela Lowe. Sang
putrid di makamkan di Ndoso, tempat tinggalnya. Sementara kulit perutnya di
kelupas dan di bawa ke Todo.
Dari kulit tersebut, Jama membuat sebuah
Gendang sebagai pendamping sebuah Gong di kerajaan yang di buat dari kuingan
dan memiliki permukaan yang rata (Gong Buka). Peperangan antar-adak mulai mereda dan Todo tampil
sebagai simbolnya. Teritori Kerajaan Manggarai terbentang luas mulai Selat Sape
di barat hingga Wai Mokel (Sungai Mokel) di timur. (Tauriqurrahman/c19/dos)
SUMBER : JP-Minggu
6 Agustus 2017
diketik ulang oleh: (hk)
diketik ulang oleh: (hk)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar