Rabu, 17 Januari 2018

Mengunjungi Todo, Bekas Ibu Kota Kerajaan Manggarai (1)



Gendang Bidadari, Pemersatu Tiga Raja

      Gadis cantik itu bernama Wela Lowe. Artinya, bunga yang tengah mekar. Kulitnya putih bening. Jika terpapar cahaya bulan, pantulannya berpilin tinggi ke langit. Sampai-sampai terlihat dari seberang lautan. Berkat pengorbanannya, perseteruan tiga raja reda, masa penjajahan berakhir, dan masyarakat Manggarai bersatu di bawah bendera tunggal, Todo.


          TODO Lebih jarang di kunjungi. Mungkin karena sudah tidak alami lagi. Bicara soal desa adat, para turis biasanya lebih suka menuju Wae Rebo, Verbo, ataupun desa-desa Megalithikum di Bena, Bajawa, Kabupaten Manggarai Timur. 

                Kehidupan masyarakat di desa-desa tersebut masih alami. Rumah adat (Niang)-nya masih tegak berdiri, ornamennya masih utuh, lesung masih berbunyi setiap pagi, para perempuan pun masih setia menenun kain. 

Sementara Todo sudah berubah menjadi sebuah perkampungan modern. Bentuk rumah penduduk tidak jauh berbeda dengan di Pulau Jawa, misalnya. Ditambah dengan penetapan Todo sebagai situs wisata, jalan mulai di paving, pondok-pondok bambu didirikan, serta penginapan di bangun untuk memanjakan para pengunjung.
 
Todo terletak di kecamatan Satar Mese Utara, sekitar 40 km dari kota Kecamatan Ruteng di Kabupaten Manggarai, NTT. Untuk mencapai di desa ini, perlu di tempuh 5 jam perjalanan darat dari Kota Pelabuhan Labuan Bajo disisi barat Pulau Flores. Menyusuri kelok-kelok jalan trans-Flores. Bergunung dan berjurang, di beberapa bagian, kondisi jalan rusak.

Tapi, dari seluruh desa adat wisata, Todo menyimpan sejarah besar. Dari tempat itulah Manggarai lahir. Siapa pun tau bahwa semua blueprint masyarakat Manggarai tersimpan rapat dalam persemayaman bisu formasi Sembilan Niang Todo.

Lama tidak di rawat, Sembilan niang itu nyaris ambruk. Empat niang terbesar masih sempat di selamatkan dan masih berdiri hingga kini. Lima sisanya dalam proses rekontruksi. Fungsi niang kini menjadi semacam monumen, bukan lagi tempat tinggal.

Masyarakat Manggarai  sudah terbentuk setidaknya sejak abad ke-15 saat Portugis datang ke Nusantara. Namun, baru resmi bersatu menjadi sebuah kerajaan pada masa raja ketiga, Jama. Akar sejarahnya agak tercecer dengan berbagai versi. Garis waktu suksesi kerajaan baru terekam pada masa raja kelima, Tamur, yang naik takhta pada 1914.

Sebelum era Jama, wilayah Flores masih berupa tanah jajahan dua kerajaan besar. Koloni kerajaan Bima di barat serta Koloni Kesultanan Goa di timur. Di Timur Flores sendiri berdiri beberapa kekerajaan kecil yang terus menerus terlihat peperangan.

Todo-Pongkor merupakan satu dari kerajaan  kecil yang di pimpin oleh seorang adak. Seteru utama mereka adalah Adak Cibal. Meskipun pernah di serang dan semua niang-nya di bakar, Todo terbukti mampu bertahan dan menjadi klan dominan. Namun, mereka benar-benar bersatu berkat pengorbanan Putri Nggerang.

“Maka dari itulah, Loke Nggerang di anggap sebagai simbol pemersatu seluruh Manggarai,” ujar Agustinus Bandung, ketua pemangku adat yang juga keturunan ke-10 raja Todo, di ruang tamunya saat koran ini berkunjung Juli lalu. Agus bercerita bahwa tiga raja sangat ingin mendapatkan hati Putri  Nggerang…

Wela Lowe dimitoskan sebagai seorang keturunan bidadari. Ada beragam versi tentang asal usulnya. Satu sebab karena sang putri begitu cantik dengan kulitnya yang bening (nggerang).

Raja Bima, Mori Dima, diceritakan terkesima dengan cahaya yang memancar dari ujung Timur Pulau Flores. Cahaya yang di sebut-sebut sebagai cahaya bulan yang di pantulkan dari kulitnya.

Versi lain menceritakan bahwa di desanya, Ndoso, Putri Nggerang kerap muncul dan hilang di balik hutan. Kemampuan gaib semacam ini di peroleh dari perkawinan sang ibu, Hendang, dengan makhluk halus (darat).

Versi Agus sebagai ketua dewan pemangku adat Todo, ibunda Wela Lowe menikah dengan seorang India. Sang suami pergi meninggalkan Hendang saat sedang hamil. Pesan suaminya, jika anak yang baru lahir adalah laki-laki, dia wajib di besarkan. Namun, jika yang lahir perempuan, wajib di bunuh.

Khawatir akan pesan suaminya, Hendang kabur ke Flores, dengan menguntip seorang petugas pajak yang baru saja selesai menyetorkan pajak ke Kerajaan Bima. Wela Lowe tumbuh dalam perawatan ibunya. Warta tentang kecantikannya segera menyebar ke penjuru Flores.

Baik Mori Dima, adak Todo, Jama serta raja Goa, masing-masing mengirim utusannya untuk melamar putri Nggerang. Tiga-tiganya di tolak. Sangat popular cerita rakyat yang menuturkan bahwa Mori Dima mengirim kutukan yang membuat mendung gelap bergulung-gulung menyelimuti langit Manggarai. Sangking marahnya.

Karena sama-sama di tolak, kata Agus, ketiganya pun memutuskan untuk “meminang” sang putri dengan cara kekerasan. “Siapapun yang berehasil mendapatkan putri Ngggerang, bagaimanapun, berhak menguasi Manggarai,” tuturnya.

Kalimat “bagian mana pun” ini pahami betul oleh Jama sebagai sebuah kesempatan. Berperang dengan dua raja besar berarti cari mampus. Jama kemudian mengitrimkan salah seorang utusannya (dalam beberapa keterangan, utusan nya itu adalah seorang komengkaba atau camat) untuk m,embunuh Wela Lowe.

Perjanjian adalah perjanjian raja Bima maupun raja Gowa mengakui bahwa Jama telah berhasil “mendapatkan” Wela Lowe. Sang putrid di makamkan di Ndoso, tempat tinggalnya. Sementara kulit perutnya di kelupas dan di bawa ke Todo. 

Dari kulit tersebut, Jama membuat sebuah Gendang sebagai pendamping sebuah Gong di kerajaan yang di buat dari kuingan dan memiliki permukaan yang rata (Gong Buka). Peperangan antar-adak mulai mereda dan Todo tampil sebagai simbolnya. Teritori Kerajaan Manggarai terbentang luas mulai Selat Sape di barat hingga Wai Mokel (Sungai Mokel) di timur. (Tauriqurrahman/c19/dos)

SUMBER : JP-Minggu 6 Agustus 2017
diketik ulang oleh: (hk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar