SIGER adalah identitas resmi masyarakat
Lampung. Provinsi yang terkenal dengan ikon gajah tersebut menyimpan pwersona
luar bisa dalam hal siger.
Siger
digunakan kaum hawa asli Lampung dan yang masih perawan tingting. Siger bakal
menterang diatas kepala kepada bebrapa cara penting masyarakat Lampung.
Misalnya upacara adat, perkawinan, hinggga festival.
Jawa Pos menelusuri sejarah siger di tanah
Sai Bumi Ruwai Jurai pada 26 agustus lalu, saat perhelatan festival Lampung
Karakatau 2017. Lagu adat Lampung di arak-arakan festival bergema di ruang
kota. Ratusan pasang mata menyorot ke festival yang menyuguhkan siger dan kain
tipis. Para perempuan Lampung berlenggak-lenggok anggun di jalanan.
Riasan
mereka memesona. Siger bertengkar di atas kepala yang disangga tubuh berbalut
kain tipis. Warna emas siger menyorot ke mata karena pantulan sinar baskara
sore.
Dalam adat
masyarakat Lampung, siger terbagi menjadi dua. Perbedaan itu di dasarkan pada
aspek geografis. Yakni siger masyarakat pesisir (Pepaduan).’’ Warna siger itu
aslinya emas,’’ tutur Totok menyebutkan, ada perbedaan di antara siger dari
masyarakat Pepadun Saibatin perbedaanya terletak pada Jurai. Siger masyarakat
pepadun punya sembilan Jurai. Baik di belakang maupun di depan siger.
Angka
sembilan itu respresentasi jumlah sugai yanh mengalir di Lampung. Yakni Sungai
Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Pengubuan, Way Abung Rearem, Way
Sungkai, Way Kanan (Umpu Besai), Way Tulang Bawang, dan Way Mesuji .
Pria yang
lahir di Kecamatan Rajabasa tersebut menuturkan, siger kebanggaan adatnya punya
tujuh jurai. Ada yang unik dari bentuk siger Saibatin sebagai punyimbang (orang yang di tuakan, Red).
Kemudian, di samping-samping punyimbang ada
rakyat,’’ paparnya.
Ayah anak
empat itu menyebutkan, siger bukan sebatas hiasan dari perempuan yang hadir di
acara penting-penting. Ada makna mendalam pada siger. Dia lantas terdiam
sejenak. Kedua bola mata Totok seolah meneropong jauh. Kelopak matanya yang
kisut menandakan bahwa asam garam kehidupan telah dia rasakan.
Menurut dia,
ada satu makna yang selalu dibawa siger. Baik di dalam masyarakat Saibatin
mauoun Pepadun. Suami Wiyanti 45, tersebut mengatakan, siger adalah lambang keistimewaan bagi perempuan.
Keistimewaan
tersebut dihadirkan lewat bentuk air mata air yang mengalir.’’ Jurai dalam
siger digambarkan seperti air, makanya bergelombang,’’ tuturnya.
Ketika ada
masalah, perempuan diaggap sebagai sosok yang menenangkan dan menyegarkan.
Suara perempuan, baik dalam adat Saibatin maupun Pepadun,punya ruang.’’ Tapi,
tetap ya, yang memutuskan adalah kaum adam. Bukan perempuan,’’ jelas dia.
Sayang, kini
tidak semua orang Lampung tidak memiliki siger di rumah. Biasanya yang punya
siger adalah penjual atau pemilik pesewaan.’’ Atau ada orang yang mengawinkan
anaknya, lalu membeli siger di rumah,’’ ujarnya.
Lantas, apa
yang membuat siger tidak memiliki semua orang Lampung? Menurut Totok, harga
siger asli mahal. Bisa mencapai puluhan juta rupiah. Karena itu, bagi sebagian
orang, lebih baik menyewa daripada membeli.
Jawa Pos lantas menelusuri harga siger di
beberapa toko di Pasar Bambu Kuning, Bandar Lampung, Lampung. Belasan toko
penjual siger berdiri di pasar yang terletak di Jalan Bukit Tinggi Nomor 2,
Kecamatan Tanjung Karang, itu.
Salah
seorang penjual, Levi Feronika, menyebutkan, Levi Feronika, menyebutkan harga
siger yang dijualnya beragam. Mulai Rp 700 ribu samapi 25 juta.’’ Yang Rp 25
juta itu dilapisi emas asli. Kalau yang ratusan ribu emas tiruan,’’ terangnya.
Biasanya,
sekitar delapan siger terjual selama sebulan. Tapi bisa lebih. Juga, yang
paling adalah siger dari emas tiruan. Levi mengaku berkompetisi dengan penyedia
jasa sewa siger.’’ Kalau beli, bisa ratusan ribu atau jutaan. Kalau sewa,
paling Rp 100 ribu-Rp 500 ribu,’’ katanya.(Dimas Nur Apriyanto/c11/dos)
Sumber : JP MINGGU 29
OKTOBER 2017
DIKETIK ULANG OLEH:
(SR)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar