Senin, 29 Januari 2018

Siger Khas Pepaduan dengan Sembilan Jurai yang Melambaikan Sembilan Sungai di Lampung.



SIGER adalah identitas resmi masyarakat Lampung. Provinsi yang terkenal dengan ikon gajah tersebut menyimpan pwersona luar bisa dalam hal siger.




Siger digunakan kaum hawa asli Lampung dan yang masih perawan tingting. Siger bakal menterang diatas kepala kepada bebrapa cara penting masyarakat Lampung. Misalnya upacara adat, perkawinan, hinggga festival.

Jawa Pos menelusuri sejarah siger di tanah Sai Bumi Ruwai Jurai pada 26 agustus lalu, saat perhelatan festival Lampung Karakatau 2017. Lagu adat Lampung di arak-arakan festival bergema di ruang kota. Ratusan pasang mata menyorot ke festival yang menyuguhkan siger dan kain tipis. Para perempuan Lampung berlenggak-lenggok anggun di jalanan.

Riasan mereka memesona. Siger bertengkar di atas kepala yang disangga tubuh berbalut kain tipis. Warna emas siger menyorot ke mata karena pantulan sinar baskara sore.

Dalam adat masyarakat Lampung, siger terbagi menjadi dua. Perbedaan itu di dasarkan pada aspek geografis. Yakni siger masyarakat pesisir (Pepaduan).’’ Warna siger itu aslinya emas,’’ tutur Totok menyebutkan, ada perbedaan di antara siger dari masyarakat Pepadun Saibatin perbedaanya terletak pada Jurai. Siger masyarakat pepadun punya sembilan Jurai. Baik di belakang maupun di depan siger.

Angka sembilan itu respresentasi jumlah sugai yanh mengalir di Lampung. Yakni Sungai Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Pengubuan, Way Abung Rearem, Way Sungkai, Way Kanan (Umpu Besai), Way Tulang Bawang, dan Way Mesuji .

Pria yang lahir di Kecamatan Rajabasa tersebut menuturkan, siger kebanggaan adatnya punya tujuh jurai. Ada yang unik dari bentuk siger Saibatin sebagai punyimbang (orang yang di tuakan, Red). Kemudian, di samping-samping punyimbang ada rakyat,’’ paparnya.

Ayah anak empat itu menyebutkan, siger bukan sebatas hiasan dari perempuan yang hadir di acara penting-penting. Ada makna mendalam pada siger. Dia lantas terdiam sejenak. Kedua bola mata Totok seolah meneropong jauh. Kelopak matanya yang kisut menandakan bahwa asam garam kehidupan telah dia rasakan.

Menurut dia, ada satu makna yang selalu dibawa siger. Baik di dalam masyarakat Saibatin mauoun Pepadun. Suami Wiyanti 45, tersebut mengatakan, siger  adalah lambang keistimewaan bagi perempuan.

Keistimewaan tersebut dihadirkan lewat bentuk air mata air yang mengalir.’’ Jurai dalam siger digambarkan seperti air, makanya bergelombang,’’ tuturnya.

Ketika ada masalah, perempuan diaggap sebagai sosok yang menenangkan dan menyegarkan. Suara perempuan, baik dalam adat Saibatin maupun Pepadun,punya ruang.’’ Tapi, tetap ya, yang memutuskan adalah kaum adam. Bukan perempuan,’’ jelas dia.

Sayang, kini tidak semua orang Lampung tidak memiliki siger di rumah. Biasanya yang punya siger adalah penjual atau pemilik pesewaan.’’ Atau ada orang yang mengawinkan anaknya, lalu membeli siger di rumah,’’ ujarnya.

Lantas, apa yang membuat siger tidak memiliki semua orang Lampung? Menurut Totok, harga siger asli mahal. Bisa mencapai puluhan juta rupiah. Karena itu, bagi sebagian orang, lebih baik menyewa daripada membeli.

Jawa Pos lantas menelusuri harga siger di beberapa toko di Pasar Bambu Kuning, Bandar Lampung, Lampung. Belasan toko penjual siger berdiri di pasar yang terletak di Jalan Bukit Tinggi Nomor 2, Kecamatan Tanjung Karang, itu.

Salah seorang penjual, Levi Feronika, menyebutkan, Levi Feronika, menyebutkan harga siger yang dijualnya beragam. Mulai Rp 700 ribu samapi 25 juta.’’ Yang Rp 25 juta itu dilapisi emas asli. Kalau yang ratusan ribu emas tiruan,’’ terangnya.

Biasanya, sekitar delapan siger terjual selama sebulan. Tapi bisa lebih. Juga, yang paling adalah siger dari emas tiruan. Levi mengaku berkompetisi dengan penyedia jasa sewa siger.’’ Kalau beli, bisa ratusan ribu atau jutaan. Kalau sewa, paling Rp 100 ribu-Rp 500 ribu,’’ katanya.(Dimas Nur Apriyanto/c11/dos)
Sumber : JP MINGGU 29 OKTOBER 2017
DIKETIK ULANG OLEH: (SR) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar