Sabtu, 20 Januari 2018

Ruwatan Potong Rambut Gimbal ala Anak-Anak Dieng (2-Habis)



Si Gembel Pengundang Pelancong

            Gimbal atau gembel boleh saja berkonotasi jelek atau kumuh. Tak urus. Tapi, anak-anak gimbal Dataran Tinggi Dieng  justru punya magnet dari situ. Rambut gimbal mereka seperti  memiliki ilmu sihir. Bak punya daya pikat.



            SEJAK 2010, ruwatan pemotongan rambut gimbal masuk agenda Dieng Cultute Festival (DCF). Masyarakat jadi paham. Wisatawan terus berbondong-bondong menyaksikan upacara tahunan tersebut.

            Tahun ini , DCF di selenggarakan 4-6 agustus di kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, Jawa Tengah. Acara puncaknya, yakni ruwatan pemotongan rambut gimbal, dilaksanakan pada Minggu (6/8). “Kalau di akhir ini, biasanya memang yang paling ditunggu-tunggu,” ungkap Ketua Panitia DCF 2017 Alif Fauzi.


            Dan jumlah pengunjung di Dieng kian meningkat tiap tahun. Selama tiga hari penyelenggaraan DCF 2017, tercatat sekitar 45 ribu wisatawan mengunjungi Dieng. Jumlah tersebut mengalami peningkatan di bandingkan tahun lalu. “ Sekitar 5-10 persen,” kata pelopor DCF tersebut.

            Pada akhirnya, ruwatan pemotongan rambut gimbal menjadi identitas penyelenggara DCF. Kalau ada DCF , ya pasti ada ruwatan pemotongan rambul gimbal. Upacara adat yang hanya di temukan di daerah Dieng.

            Panitia DCF yang sebagian besar dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banjarnegara itu pun terus menggenjot kreativitas agenda. Agar tidak membosankan, acara di kemas sedemikian apik. Ide-ide menciptakan acara pendamping baru pun kian di tingkatkan. “Bintang tamu Jazz atas Awan juga baru. Berbeda dengan tahun lalu,” jelas pria 38 tahun ini. Jazz atas Awan adalah agenda utama, selain ruwatan pemotongan rambut gimbal, dalam penyelenggaraan DCF.

            Peningkatan jumlah wisatawan itu berimbas pada pendapatan penduduk local. Ada 80  usaha mikro krcil dan menengah (UMKM) masyarakat local yang tergabung. Diperkirakan jumlah transaksi mencapai Rp 40 miliar selama tiga hari serangkaian acara.

            Bupati Banjarnegara Sarwono mengakui bahwa ruwatan  rambut gimbal sudah menjadi tradisi turun- temurun oleh masyarakat Dieng. Kelestariaanya juga di jaga betul. Salah satunya dengan memasukkan ke dalam agenda DCF. “Ini termasuk berhasil. Wisatawn semakin banyak.” Ungkapnya.

            Menurut Budu,  nilai kesaklaran  dari ruwatan pemotongan rambut gimbal  tidak boleh luntur. Apalagi hilang. Jangan semata-mata mengejar “sorotan” datangnyab wisatawan. Tapi pelaksanaan ruwatan harus tetap memenuhi nilai-nilai budaya yang sedah pakem.



            Prosesi di lakukan sesuai urutan dan runtut. Kebutuhan ruwatan harus di penuhi sebaik-baiknya dan terperinci. Termasuk juga ritual-ritual yang perlu di perhatikan sebelum pelaksanaan ruwatan.


            Tiga hari sebelum ruwatan, pemangku adat napak tilas di 32 titik sekitar lokasi ruwatan.  Ritual ini bertujuan nuwun sewu dan berdoa agar pemotongan  rambut gimbal berjalan dengan lancar. Sesaji juga harus ada. Antara lain, nasi tumpeng dengan jumlah sesuai anak yang  gembel, minuman 17 warna, ketan, daging ayam, buah-buahan, dan masih banyak lagi.

            Mbah Sumanto, tetua adat , mengungkapkan, sebelum masuk agenda DCF, ruwatan pemotongan rambut gimbal di lakukan di rumah masing-masing. Pelaksanaanya adalah pemangku adat. Perayaan pun di adakan di rumah keluarga anak-anak gembel. Mereka mengundang masyarakat sekitar. “Ya meriah. Sudah seperti mantenan (pesta pernikahan, Red),” terangnya.

            Sampai saat itu pun, masyarakat  masih tetap di perbolehkan  melakukan ruwatan di rumah masing-masing. Itu bergantung permintaan anak gimnal. Mereka tidak dapat di paksa mengikuti ruwatan dalam  rangkaian acara DCF.

            Mereka yang tidak mampu menyelenggarakan ruwatan secara mandiri pasti merasa terbantu dalam DCF. Panitia DCF memberikan  bantuan sepenuhnya. Termasuk juga biaya permintaan anak gembel. “Bisa kami bantu sepenuhnyaa, ada juga yang sebagian. Bergantung permintaan,”terang pria 69 tahun itu.

            Keluarga anak gembel mendaftar kepanitia  untuk ikut serta ruwatan masal. “Tapi, sekali lagi, anak gembel tidak bisa di paksa,” tegas Mbah Sumanto. Pada awal penyelenggaraan DCF, panitia harus hunting anak gembel yang mau ikut ruwatan masal. Tapi, seiring berjalannya waktu, anak gembel malah datang sendiri. Mereka daftar ke panitia DCF dari jauh-jauh hari. “Ada yang berbulan-bulan hingga setahun sebelumnya,” katanya. (Brianika Irawati/c17/dos)

Sumber: JP- Minggu 27 Agustus 2017
Ditulis ulang oleh: (lw)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar