Si Gembel Pengundang Pelancong
Gimbal
atau gembel boleh saja berkonotasi jelek atau kumuh. Tak urus. Tapi, anak-anak
gimbal Dataran Tinggi Dieng justru punya
magnet dari situ. Rambut gimbal mereka seperti
memiliki ilmu sihir. Bak punya daya pikat.
SEJAK 2010,
ruwatan pemotongan rambut gimbal masuk agenda Dieng Cultute Festival (DCF).
Masyarakat jadi paham. Wisatawan terus berbondong-bondong menyaksikan upacara
tahunan tersebut.
Tahun ini , DCF di selenggarakan 4-6
agustus di kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, Jawa Tengah. Acara puncaknya,
yakni ruwatan pemotongan rambut gimbal, dilaksanakan pada Minggu (6/8). “Kalau
di akhir ini, biasanya memang yang paling ditunggu-tunggu,” ungkap Ketua
Panitia DCF 2017 Alif Fauzi.
Dan
jumlah pengunjung di Dieng kian meningkat tiap tahun. Selama tiga hari
penyelenggaraan DCF 2017, tercatat sekitar 45 ribu wisatawan mengunjungi Dieng.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan di bandingkan tahun lalu. “ Sekitar 5-10
persen,” kata pelopor DCF tersebut.
Pada
akhirnya, ruwatan pemotongan rambut gimbal menjadi identitas penyelenggara DCF.
Kalau ada DCF , ya pasti ada ruwatan pemotongan rambul gimbal. Upacara adat
yang hanya di temukan di daerah Dieng.
Panitia
DCF yang sebagian besar dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banjarnegara itu
pun terus menggenjot kreativitas agenda. Agar tidak membosankan, acara di kemas
sedemikian apik. Ide-ide menciptakan acara pendamping baru pun kian di
tingkatkan. “Bintang tamu Jazz atas
Awan juga baru. Berbeda dengan tahun lalu,” jelas pria 38 tahun ini. Jazz atas Awan adalah agenda utama,
selain ruwatan pemotongan rambut gimbal, dalam penyelenggaraan DCF.
Peningkatan
jumlah wisatawan itu berimbas pada pendapatan penduduk local. Ada 80 usaha mikro krcil dan menengah (UMKM)
masyarakat local yang tergabung. Diperkirakan jumlah transaksi mencapai Rp 40
miliar selama tiga hari serangkaian acara.
Bupati
Banjarnegara Sarwono mengakui bahwa ruwatan
rambut gimbal sudah menjadi tradisi turun- temurun oleh masyarakat
Dieng. Kelestariaanya juga di jaga betul. Salah satunya dengan memasukkan ke
dalam agenda DCF. “Ini termasuk berhasil. Wisatawn semakin banyak.” Ungkapnya.
Menurut
Budu, nilai kesaklaran dari ruwatan pemotongan rambut gimbal tidak boleh luntur. Apalagi hilang. Jangan
semata-mata mengejar “sorotan” datangnyab wisatawan. Tapi pelaksanaan ruwatan
harus tetap memenuhi nilai-nilai budaya yang sedah pakem.
Prosesi
di lakukan sesuai urutan dan runtut. Kebutuhan ruwatan harus di penuhi
sebaik-baiknya dan terperinci. Termasuk juga ritual-ritual yang perlu di
perhatikan sebelum pelaksanaan ruwatan.
Tiga
hari sebelum ruwatan, pemangku adat napak tilas di 32 titik sekitar lokasi
ruwatan. Ritual ini bertujuan nuwun sewu dan berdoa agar
pemotongan rambut gimbal berjalan dengan
lancar. Sesaji juga harus ada. Antara lain, nasi tumpeng dengan jumlah sesuai
anak yang gembel, minuman 17 warna,
ketan, daging ayam, buah-buahan, dan masih banyak lagi.
Mbah
Sumanto, tetua adat , mengungkapkan, sebelum masuk agenda DCF, ruwatan
pemotongan rambut gimbal di lakukan di rumah masing-masing. Pelaksanaanya
adalah pemangku adat. Perayaan pun di adakan di rumah keluarga anak-anak
gembel. Mereka mengundang masyarakat sekitar. “Ya meriah. Sudah seperti
mantenan (pesta pernikahan, Red),” terangnya.
Sampai
saat itu pun, masyarakat masih tetap di
perbolehkan melakukan ruwatan di rumah
masing-masing. Itu bergantung permintaan anak gimnal. Mereka tidak dapat di
paksa mengikuti ruwatan dalam rangkaian
acara DCF.
Mereka
yang tidak mampu menyelenggarakan ruwatan secara mandiri pasti merasa terbantu
dalam DCF. Panitia DCF memberikan
bantuan sepenuhnya. Termasuk juga biaya permintaan anak gembel. “Bisa
kami bantu sepenuhnyaa, ada juga yang sebagian. Bergantung permintaan,”terang
pria 69 tahun itu.
Keluarga
anak gembel mendaftar kepanitia untuk
ikut serta ruwatan masal. “Tapi, sekali lagi, anak gembel tidak bisa di paksa,”
tegas Mbah Sumanto. Pada awal penyelenggaraan DCF, panitia harus hunting anak gembel yang mau ikut
ruwatan masal. Tapi, seiring berjalannya waktu, anak gembel malah datang
sendiri. Mereka daftar ke panitia DCF dari jauh-jauh hari. “Ada yang
berbulan-bulan hingga setahun sebelumnya,” katanya. (Brianika Irawati/c17/dos)
Sumber: JP- Minggu 27 Agustus 2017
Ditulis ulang oleh: (lw)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar