Kamis, 25 Januari 2018

Tradisi Lestari Suku Papua Pengunungan di Wamean (2-Habis)



Sering Kali Tidak Bisa Memilih





Dalam tradisi Wamena, laki-laki memang menjadi penentu di banyak aspek. Sementara itu, peran perempuan tak jauh-jauh dari peran domestik rumah tangga saja. Meski begitu, posisi perempuan di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, tetap menarik.

KABUPATEN Jayawijaya punya banyak sekali suku. Sekitar 40 suku. Masing-masih punya ciri khas sendiri. Termasuk dalam hal berpakaian.

Namun, secara garis besar, pakaian mereka sama. Laki-laki berkotekan dan perempuan mengenakan Sali atau rok yang terbuat dari anyaman daun yang dikeringkan lalu dibentuuk seperti benang.

Ciri khas lainnya adalah setiap perempuan pasti memiliki noken. Noken merupakan tas asli Wamena yang juga terbuat dari daun dan serat-serat tumbuhan. Walaupun sekarang sudah banyak noken yang dibuat dari benang tokok.

Cara memakai token juga cukup khas, diletakkan dia atas kepala. Para perempuan menggunakannya untuk membawa apa pun, termasuk menggendong bayi. Tak jarang juga didapati perempuan yang menggendong lebih dari dua noken di kepalanya.

Setiap ada waktu luang, perempuan Wamena membuat noken. Mulai memintal daun dan serat tumbuhan hingga menganyam. Rata-rata noken yang berukuran besar bisa diselesaikan selama tiga minggu hingga satu bulan.

Dalam honai, rumah adat Papua, perempuan tidur di tempat yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan tidak boleh masuk ke holai laki-laki. Bentuk honai perempuan biasanya memanjang dengan dua tempat tidur yang digunakan bersama-sama. Tempat tidur mereka selalu terletak di atas perapian yang digunakan sebagai kompor.

Di honai perempuan biasanya juga terdapat kandang babi. Justru kandang babi itu lebih besar dari pada tempat tidur mereka. Kadang babi terletak di tengah honai.

Perempuan dan peliharaannya, babi, juga begitu dekat. Saat berkunjung ke Wamena awal Agustus, Jawa Pos sempat berkunjung ke rumah adat salah satu suku di Wamena.

Mereka menunjukkan bagaimana kedekatan perempuan, terutama para ibu, dengan babinya. “Kalau dipanggil bukan dengan yang punya, babi tidak mau mendekat,” kata Lusi Lokobal, salah seorang istri ketua suku Asolokobal.

Dulu bahkan ada tradisi ibu menyusui babinya. Para ibu memperlakukan babi seperti anaknya. Bahkan, saat festival Lembah Baliem, ada lomba karapan anak babi. Lombanya cukup unik. Si ibu, yang biasa dipanggil mama, berjalan. Sementara itu, babinya mengikuti di belakang.

Tradisi lainnya yang dilakukan permpuan adalah bakt batu. Bakar batu tersebut merupakan tradisi adat memasak dengan batu. Biasanya dilakukan untuk merayakan sesuatu. Berpesta. Yang dimasak adalah babi, ubi, dan daun-dauan.

Caranya, batu dipanaskan di atas bara api. Setelah panas, batu disusun dalam sebuah lubang. Untuk mengalasi makanan, biasanya digunakan ilalang atau daun-daun. Susunan pertama yang dimasukkan adalah umbi-umbian. Lalu ditindih batu panas lagi. Di atasnya ditambah daun-daun seperti daun umbi. Lalu, yang paling atas adalah daging babi. Setelah itu, lubang ditutup daun serta batu panas lagi. Biasanya mereka memasak selama satu jam.

Secara sosial, perempuan Wamena, terutama masih tinggal di pelosok, tidak memiliki daya tawar dengan laki-laki. Mereka kerap dipaksa menikah, bahkan oleh keluarga sendiri. David Siet, ketua suku Distrik Pisugi, menunturkan bahwa salah seorang istrinya ditawarkan oleh keluarga. “Dia masih SMP,” katanya di sela-sela festival Lembah Baliem.

Perempuan di Wamena memang tidak memerankan banyak hal penting. Walaupun menjadi penduduk kelas dua, masih banyak di antara mereka yang tunduk dan menjalani peran tersebut. (Ferlynda Putri/c19/do)

Sumber: JP- MINGGU 1 OKTOBER2017
Di ketik ulang oleh: (VAP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar