Hampir semua berbagian tanah Manggarai,bakan di seluruh
Flores Timur dahulu mengunakan system linko sawah apakah itu sawah,tegal, kebun
bahkan hutan . system ini adalah asalmuasal munculnya sawah “spider-man “ yang
amat terkenal di kalagan turis. Di kerajaan Manggarai system fiodal itu di
sebut membaru lingko peang (rumah di dalam, landing di luara).
Saat ini sawah membentuk sarang laba laba ini bisa di temui
di kecamatan cancar, sekitar 20 kilometer dari Todo. Pegunjung harus naik ke puncak bukit untuk bisa melihat
sawah tersebut. Ada masih satu lagi di dekat todo. Tapi saat .masih dalam
proses recovery untuk kelak di jadikan tempat wisata.
Untuk menjadi seorang komengkaba, pertama seorang harus
punya tanah yang cukup pemukiman dan polusi penduduk kampong yang stabil,
layout yang diwajibkan adalah dunia linkaran besar dengan dengan kampung berisi
rumah rumah gendang berposisi di tengah-tengah.
Dua lahan lingkaran besar tersebut kemudian di bagi-bagi
kepada seluruh penduduk desa dengan sistem pebagian diris-iris seperti fizza
masing –masing keluarga mendapatkan satu iris. Irisan irisan paling lebar
berada di sisi terluar lingkaran, kemudian semakin sempit menuju titik pusat.
Sang calon komengkaba kemudian menghadap raja untuk
mendapatkan izin mendirika sebuah kampung gendang. Jika raja bekenan kerajaan
akan memberinya beberapa pasang gong dan gendang. Bergantung beberapa jumlah
rumah di tradisional di Mangggarai di sebut mbaru gendang (rumah gendang).
Sepasang gong dan gendang di tempatkan di masing masing
rumah. Sebagai simbol ketaatan dan kedudukan mereka terhadap kerajaan “gong dan
gendang .” setelah inzin di dapat, barulah sang tuan tanah resmu”menjadi
seseorang komenggkabayang memimpi sebuah kampung.
Lingkon sawah punya beberapa varian. Pertama di lihat dari
cara pengirisan. Ada tipe linko manuk. Dari titik pusat, titik tersempit dari
setiap irisan ,pembagian di ukur dengan ukuran kepala tangan. Setiap iris
masing masing selebar satu kepal tangan kemudian melebar sampai ketitik luar
linkaran .
Varia lain adadalah longko kina. Bentuk irisannyalebih tajam
di pucuk karena irisa dekat titik pusat di ukur hanya selebar ibujari. Setiap
lingkaran lahan hanya boleh diris sampai sembilan bagian. Lebih dari itu ,
lingko tidak lagi di sebut sawah , namun di sebut moso.
Namun ada juga lahan yang berbentuk setengah lingkaran, juga
diiris iris menjadi sembilan bagian seperti pizza. Lingko seperti ini di sebut
dengan lingko saungcue.
Seperti kata antropolog Clifford Greetz, pembagian feodal
selalu membuat lahan pertanian semakin sempit.seiring waktu, setiap keluarga
harus mewariskan sawahnya kepada anakny.pelahan lahan, seiris pizza tersebut
terbagi lagi menjadi tiga honga empat bagian. Bergantung banyaknya anak yang
harus di warisin lahan. Inilah yang menbuat sawah berubah menjadi moso dan
membuat irisan pizza lebih memiliki pola pola potong yang tidak beratuarn.
Membuatnya mirip sarang lababa.
Misalnya sawah milik basilllius surame. Satu iris miliknya di bagi ketiga anak.maka,didalam
irisannya, dia membuat lagi pemakam pemakam kecil yang membagi irisan miliknya
kepada anaknya.pembagian harus rata meskipotongan masing masing tidak lebih
lebar dari selompan orang dewasa.
“satu lingkaran sawah milik satu desa, lingkran ini punya warga
kampung melle,”kata natalia dahul, anak menantu basillios yang tengah menemani
ayah mertuanya mengarap sawah, siang itu.(tau/c19/dos)
SUMBER: JP- MINGGU 13
AGUSTUS 2017.
diketik ulang oleh: (ek)
diketik ulang oleh: (ek)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar