Kamis, 18 Januari 2018

Rahasia Feodal sawah sepider –man






Hampir semua berbagian tanah Manggarai,bakan di seluruh Flores Timur dahulu mengunakan system linko sawah apakah itu sawah,tegal, kebun bahkan hutan . system ini adalah asalmuasal munculnya sawah “spider-man “ yang amat terkenal di kalagan turis. Di kerajaan Manggarai system fiodal itu di sebut membaru lingko peang (rumah di dalam, landing di luara).


Saat ini sawah membentuk sarang laba laba ini bisa di temui di kecamatan cancar, sekitar 20 kilometer dari Todo. Pegunjung  harus naik ke puncak bukit untuk bisa melihat sawah tersebut. Ada masih satu lagi di dekat todo. Tapi saat .masih dalam proses recovery untuk kelak di jadikan tempat wisata.

Untuk menjadi seorang komengkaba, pertama seorang harus punya tanah yang cukup pemukiman dan polusi penduduk kampong yang stabil, layout yang diwajibkan adalah dunia linkaran besar dengan dengan kampung berisi rumah rumah gendang berposisi di tengah-tengah.

Dua lahan lingkaran besar tersebut kemudian di bagi-bagi kepada seluruh penduduk desa dengan sistem pebagian diris-iris seperti fizza masing –masing keluarga mendapatkan satu iris. Irisan irisan paling lebar berada di sisi terluar lingkaran, kemudian semakin sempit menuju titik pusat.

Sang calon komengkaba kemudian menghadap raja untuk mendapatkan izin mendirika sebuah kampung gendang. Jika raja bekenan kerajaan akan memberinya beberapa pasang gong dan gendang. Bergantung beberapa jumlah rumah di tradisional di Mangggarai di sebut mbaru gendang (rumah gendang).

Sepasang gong dan gendang di tempatkan di masing masing rumah. Sebagai simbol ketaatan dan kedudukan mereka terhadap kerajaan “gong dan gendang .” setelah inzin di dapat, barulah sang tuan tanah resmu”menjadi seseorang komenggkabayang memimpi sebuah kampung.

Lingkon sawah punya beberapa varian. Pertama di lihat dari cara pengirisan. Ada tipe linko manuk. Dari titik pusat, titik tersempit dari setiap irisan ,pembagian di ukur dengan ukuran kepala tangan. Setiap iris masing masing selebar satu kepal tangan kemudian melebar sampai ketitik luar linkaran .

Varia lain adadalah longko kina. Bentuk irisannyalebih tajam di pucuk karena irisa dekat titik pusat di ukur hanya selebar ibujari. Setiap lingkaran lahan hanya boleh diris sampai sembilan bagian. Lebih dari itu , lingko tidak lagi di sebut sawah , namun di sebut moso.

Namun ada juga lahan yang berbentuk setengah lingkaran, juga diiris iris menjadi sembilan bagian seperti pizza. Lingko seperti ini di sebut dengan lingko saungcue.

Seperti kata antropolog Clifford Greetz, pembagian feodal selalu membuat lahan pertanian semakin sempit.seiring waktu, setiap keluarga harus mewariskan sawahnya kepada anakny.pelahan lahan, seiris pizza tersebut terbagi lagi menjadi tiga honga empat bagian. Bergantung banyaknya anak yang harus di warisin lahan. Inilah yang menbuat sawah berubah menjadi moso dan membuat irisan pizza lebih memiliki pola pola potong yang tidak beratuarn. Membuatnya mirip sarang lababa.

Misalnya sawah milik basilllius surame. Satu iris  miliknya di bagi ketiga anak.maka,didalam irisannya, dia membuat lagi pemakam pemakam kecil yang membagi irisan miliknya kepada anaknya.pembagian harus rata meskipotongan masing masing tidak lebih lebar dari selompan orang dewasa.

“satu lingkaran sawah milik satu desa, lingkran ini punya warga kampung melle,”kata natalia dahul, anak menantu basillios yang tengah menemani ayah mertuanya mengarap sawah, siang itu.(tau/c19/dos)

 SUMBER: JP- MINGGU 13 AGUSTUS  2017.
diketik ulang oleh: (ek)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar