Sabtu, 27 Januari 2018

Ma’nene, Menghormati Yang Telah Berpulang, Merekatkan Kekeluargaan (2-Habis)



Tradisi Berlandasan Agama



Tradisi ma’nene telah ada selama ratusan tahun. Seiring waktu berlalu, generasi berganti, tradisi unik masyarakat Toraja Utara itu pun ikut termodifikasi. Yang paling terlihat adalah kentalnya pengaruh agama kristen.


TIGA peti baru saja tiba dari Makassar pada 14 September. Peti-peti cokelat itu lantas dijejerkan di depan sebuah liang lahad di sudut Lo’ko’ Mata.

Liang itu belum berpintu. Masih baru.minggu sesaruru, salah seorang anggota famili, tampak siaga menjaga tiga jenazah keluarganya. Yakni sang tante bersama dengan suami dan anaknya.

Yang menarik, di bagian dalam peti itu terdapat bungkus-bungkus permen. Bungkus tersebut bukan lah sampah karena masih ada isinya. Permennya pun bukan permen khusus, hanya permen yang biasa digunakan sebagai kembalian pengganti uang koin. Minggu menuturkan, permen itu sengaja diletakkan disana sebagai sesajen.

Bukan kembang tujuh rupa atau kemenyan, sesajen untuk keluarga yang sudah meninggal pun berganti. Kebanyakan barang plastik.

Permen-permen keil menjadi substitusi sirih dan taburan bunga. Tak jarang pula anggota keluarga menyajikan minuman dalam kemasan botol. Minuman botol itu merupakan pengganti kopi.

Karena itu, jangan heran jika banyak sekali bungkus plastik makan atau botol plastikyang bertebaran di sekitar Lo’ko’ Mata.

Plastik-plastik itu bertumpuk di depan liang, saking banyaknya sampai terkadang berserakan. Yang tidak tahu mungkin akan menganggap plastik-plastik itu sebgai sampah. “Biasanya yang di sajikan itu adalah yang di sukai almarhum,” ucap Minggu ketika itu.

Tak uma di Lo’ko’ Mata, masyarakat yang menggunakan makam di batu lain melakuan hal serupa. Misalnya di londa. Dalam makam gua itu, bukan hal aneh botol-botol plastik bersanding dengan tengkorak-tengkorak yang sudah semakin keropos.

Juga, menurut masyarakat setempat, sesajen plastik itu tidak boleh diambil dari tempatnya. Jika diambil, itu tanda tidak menghormati almarhum.

Setiap ma’nene, keluarga memang tidak pernah lupa membawa semacam sesrahan seperti kopi dan sirih. Bahkan, kebiasaan itu mereka lakukan sejak keluarga masih disimpan dalam rumah tongkonan.

Bagi masyarakat Toraja, tinggal serumah dengan orang yang sudah meninggal adalah hal lumrah. “Orang sini tidak menganggapnya meninggal, tetapi hanya sakit,” tutur Marten Bumbungan, tokoh adat setempat.

Karena orang itu dianggap masih sakit, keluarga masih memperlakukannya seperti manusia hidup. Setiap hari dibawakan makanan, meskipuntidak ada yang menghabiskan. Piring makanan dan gelas yang berisi kopi selalu di sajikan di depan pintu peristirahatan jenazah. Kadang juga jenazah diajak mengobrol sedikit, sekedar menanyakan apakah mereka lapar atau tidak.

Meski selalu membawa sajian, masyarakat Toraja masa kini sudah mengubah mindset. Sajian itu bukan lagi untuk “dikonsumsi” almarhum, melainkan hanya bentuk kasih sayang dan penghormatan. Sebab, tradisi ma’nene kini berlandasan iman kristiani.

Marten menjelaskan, dalam iman kristen, manusia yang sudah meninggal tidak punya hubungan lagi dengan mereka yang masih hidup, meki keluraga.

Bagaimana kehidupannya setelah meninggal di alam baka, itu urusan almarhum dengan Sang Pencipta. “Karena itu, dalam ajaran kristen protestan, kita tidak berdoa untuk orang yang meninggal. Kita berdoa untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan,” jelasnya.

Kepercayaan kristen semacam itu memang tampak bertolak belakangdengan tradisi masyarakat Toraja sejak nenek moyang. Walau begitu, masyarakat Toraja ternyata bisa memadukan kedua paham yang tampaknya berbeda tersebut.

Sejak 1947, upara ma’nene menggunkan cara kristen. Rankaian perayaan dimulai dengan ibadah di gereja setempat dan dikhiri pula dengan ibadah penutupan.

Lewat ibadah itu, para pendeta selalu mengingatka bahwa ma’nene bukanlah kesmpatan berhubungan lagi denganroh keluarga. Tatapi untuk “brsua” dengan raga keluarga yang telah mendahului mereka sembari mengingat segala kebaikan dan budi yang sudah di ajarkan almarhum.(Debora Danisa Sitanggang/c11/dos) 
Sumber : JP- Minggu 15 Oktober 2017
Disusun kembali oleh : (AS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar