Tradisi
Berlandasan Agama
Tradisi ma’nene telah ada selama ratusan tahun.
Seiring waktu berlalu, generasi berganti, tradisi unik masyarakat Toraja Utara
itu pun ikut termodifikasi. Yang paling terlihat adalah kentalnya pengaruh
agama kristen.
TIGA
peti baru saja tiba dari Makassar pada 14 September. Peti-peti cokelat itu
lantas dijejerkan di depan sebuah liang lahad di sudut Lo’ko’ Mata.
Liang itu belum
berpintu. Masih baru.minggu sesaruru, salah seorang anggota famili, tampak
siaga menjaga tiga jenazah keluarganya. Yakni sang tante bersama dengan suami
dan anaknya.
Yang menarik, di bagian
dalam peti itu terdapat bungkus-bungkus permen. Bungkus tersebut bukan lah
sampah karena masih ada isinya. Permennya pun bukan permen khusus, hanya permen
yang biasa digunakan sebagai kembalian pengganti uang koin. Minggu menuturkan,
permen itu sengaja diletakkan disana sebagai sesajen.
Bukan kembang tujuh
rupa atau kemenyan, sesajen untuk keluarga yang sudah meninggal pun berganti.
Kebanyakan barang plastik.
Permen-permen keil
menjadi substitusi sirih dan taburan bunga. Tak jarang pula anggota keluarga
menyajikan minuman dalam kemasan botol. Minuman botol itu merupakan pengganti
kopi.
Karena itu, jangan
heran jika banyak sekali bungkus plastik makan atau botol plastikyang
bertebaran di sekitar Lo’ko’ Mata.
Plastik-plastik itu
bertumpuk di depan liang, saking banyaknya sampai terkadang berserakan. Yang
tidak tahu mungkin akan menganggap plastik-plastik itu sebgai sampah. “Biasanya
yang di sajikan itu adalah yang di
sukai almarhum,” ucap Minggu ketika itu.
Tak uma di Lo’ko’ Mata,
masyarakat yang menggunakan makam di batu lain melakuan hal serupa. Misalnya di
londa. Dalam makam gua itu, bukan hal aneh botol-botol plastik bersanding
dengan tengkorak-tengkorak yang sudah semakin keropos.
Juga, menurut
masyarakat setempat, sesajen plastik itu tidak boleh diambil dari tempatnya.
Jika diambil, itu tanda tidak menghormati almarhum.
Setiap ma’nene, keluarga memang tidak pernah
lupa membawa semacam sesrahan seperti kopi dan sirih. Bahkan, kebiasaan itu
mereka lakukan sejak keluarga masih disimpan dalam rumah tongkonan.
Bagi masyarakat Toraja,
tinggal serumah dengan orang yang sudah meninggal adalah hal lumrah. “Orang
sini tidak menganggapnya meninggal, tetapi hanya sakit,” tutur Marten
Bumbungan, tokoh adat setempat.
Karena orang itu
dianggap masih sakit, keluarga masih memperlakukannya seperti manusia hidup.
Setiap hari dibawakan makanan, meskipuntidak ada yang menghabiskan. Piring
makanan dan gelas yang berisi kopi selalu di sajikan di depan pintu
peristirahatan jenazah. Kadang juga jenazah diajak mengobrol sedikit, sekedar
menanyakan apakah mereka lapar atau tidak.
Meski selalu membawa
sajian, masyarakat Toraja masa kini sudah mengubah mindset. Sajian itu bukan lagi untuk “dikonsumsi” almarhum,
melainkan hanya bentuk kasih sayang dan penghormatan. Sebab, tradisi ma’nene kini berlandasan iman kristiani.
Marten menjelaskan,
dalam iman kristen, manusia yang sudah meninggal tidak punya hubungan lagi
dengan mereka yang masih hidup, meki keluraga.
Bagaimana kehidupannya
setelah meninggal di alam baka, itu urusan almarhum dengan Sang Pencipta.
“Karena itu, dalam ajaran kristen protestan, kita tidak berdoa untuk orang yang
meninggal. Kita berdoa untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan,” jelasnya.
Kepercayaan kristen
semacam itu memang tampak bertolak belakangdengan tradisi masyarakat Toraja
sejak nenek moyang. Walau begitu, masyarakat Toraja ternyata bisa memadukan kedua
paham yang tampaknya berbeda tersebut.
Sejak 1947, upara ma’nene menggunkan cara kristen.
Rankaian perayaan dimulai dengan ibadah di gereja setempat dan dikhiri pula
dengan ibadah penutupan.
Lewat ibadah itu, para
pendeta selalu mengingatka bahwa ma’nene
bukanlah kesmpatan berhubungan lagi denganroh keluarga. Tatapi untuk “brsua”
dengan raga keluarga yang telah mendahului mereka sembari mengingat segala
kebaikan dan budi yang sudah di ajarkan almarhum.(Debora Danisa Sitanggang/c11/dos)
Sumber : JP- Minggu 15
Oktober 2017
Disusun kembali oleh :
(AS)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar