Rabu, 24 Januari 2018

Tradisi Lestari Suku Papua Pegunungan di Wamena (1)



Sampai Mati Bela Harga Diri



            Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua. Kata orang, belum ke Papua kalau belum singgah di kota yang berada di lembah pegunungan jaya wijaya tersebut. Keragaman budaya wamena konon adalah gambaran orang-orang papua yang berada di pegunungan.


          NAMUN, kebudayaan di wamena tidak tunggal dan seragam. Budaya itu sungguh beragam. Sebab, di kawasan tersebut ada sekitar 40 distrik atau suku. Dan masing-masing punya kebudayaan sendiri.

                Meski begitu, benang merah tiap kebudayaan itu sangat erat. Termasuk pembagian peran budaya berdasar gender. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya menjelaskan ragam kebudayaan tersebut. Inilah peran yang di mainkan laki-laki dalam peradaban di kawasan Wamena :
Perang

                Berperang atau yang dalam bahasa adat di sebut wim tidak asing lagi di masyarakat pegunungan tengah. Perang suku kerap terjadi di masa lalu. Biasanya, penyebabnya adalah sengketa batas tanah, perebutan perempuan, atau permasalahan hewan piaraan seperti babi.

                Perang itu berlangsung turun-temurun. Sebab, ada aksi balas dendam. Bagi mereka, perang adalah menyelamatkan harga diri. Karena itu, harus menang.

                Dalam berperang, suku-suku di kawasan itu menggunakan tombak, parang batu, atau panah. Di dalam tombak atau panah tersebut, terdapat racun yang berasal dari tumbuhan.

                Laki-laki dewasa wajib ikut dalam peperangan. Kepala suku menjadi pemimpin dalam peperangan dengan dandanan paling mencolok.

                Ketika berperang, tubuh mereka di baluri tanah liat. Sehingga, warnanya hitam dan kekuningan. Selain untuk penyamaran, baluran tanah liat itu bisa mengurangi sengatan matahari.

                Strategi peperangan kerap di tentukan malam. Satu pengintai, biasanya berada di atas pohon, di tugasi untuk mengamati lawan.

                Peran tetua adat, yang juga di ambil alih oleh laki-laki, sangat menentukan. Tetua adat itu bisa meramalkan strategi apa yang baik untuk menghindari korban yang banyak. Suku yang mengalami banyak korban saat peperangan di anggap yang bersalah.

                Para pemenang akan mengadakan tari kemenangan. Para lelaki akan kembali ke distrik, lalu berpesta. Tari kemenangan itu simpel. Hanya melompat dan berteriak.

Puradan

                Puradan atau melempar tombak sambil berlari merupakan permainan yang sering di mainkan oleh anak-anak di Wamena. Sasaran tombak yang di lempar adalah rotan yang di bentuk melingkar dan di gelindingkan.

                Dalam permainan tersebut, anak-anak belajar untuk menombak dengan tepat. Karena sasarannya bergerak, anak-anak itu akan terbiasa mempraktikkan keahlian tersebut hingga dewasa. Misalnya, untuk berburu atau berperang.

                Tombak yang di gunakan untuk permainan itu terbuat dari kayu. Sama halnya dengan tombakuntuk berburu atau berperang. Hanya, bentuknya lebih kecil dan tidak menggunakan racun.
Kepala Suku

                Kepala Suku sangat di hormati dalam masyarakat Wamena . Keputusan berada di tangan mereka. Status kepala mereka itu di peroleh secara turun-temurun.

                Kepala suku di tetapkan dengan acara adat. Bakar batu dan potong babi adalah adat yang tidak bisa di tinggalkan.

                Sang kepala suku biasanya berpakaian lebih variatif dan mencolok. Kepalanya akan di hiasi mahkota dari bulu burung. Hidungnya akan di beri hiasan taring babi berbentuk U yang di tusuk kan di tengah.

                Biasanya, kepala suku menikah dengan lebih dari satu perempuan. Kerap kali keluarga perempuan lah yang menyodorkan si gadis ke[ada kepala suku. Sebab, di nikahi kepala suku adalah sebuah kehormatan. (Ferlyanda Putri/c6/dos)

Sumber : JP- Minggu 24 September 2017
Di ketik ulang oleh : Lisa wati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar