MENDANDANI
mayat. Merias mayat. Ada beberapa sebutan yang dikenal orang awam tentang ma’nene.
Secara
harfiah, ma’nane sendiri punya arti
“merawat mayat”. Merawat dengan berbagai cara. Bisa dilakukan dengan pengganti
kain pembungkusnya. Atau dengan
membersihkan jenazah yang tinggal tulang-belulang. Jika masih baik kondisinya,
diangin-anginkan atau dijemurdi bawah terik matahari sudah cukup.
Itulah
cara-cara yang di lakukan masyarakat Toraja Utara untuk menyatakan kasih saying
dan rasa hormatnya kepada keluarga yang telah meninggal dunia.
Masyarakat
Toraja memang dikenal sebagai kaum yang begitu menghargai jenazah. Bukan
sebagai pengultusan. Melainkan sebagai ‘kenang-kenangan’ akan keluarga yang
sudah kembali kea lam baka.
Bagi
warga Toraja, kematian bukanlah perpisahan abadi. Jiwa memang sudah tiada di
dunia, namun masih ada raga yang tersisa. Dengan raga itulah, mereka
mencurahkan kasih saying dan penghormatan bagi yang telah berpulang. Momen
spesial itu punya nama Ma’nene.
Diwilayah
perkotaan Toraja Utara, Ma’nene
jarang di lakukan. Yang masih melestarikan tradisi itu mereka yang berasal dari
desa. Terutama yang berada di perbukitan. Sebab, disana masih ada banyak batu
yang bisa digunakan sebagai makam. Nah, di Toraja Utara ada satu batu yang
ikenal paling besar diantara batu-batu yang lain: Lo’ko’ Mata.
Tahun
ini Ma’nene di Lo’ko’ Mata kembali digelar. Liang-liang kubur di buka.
Jenazah-jenazah dikeluarkan. Masyarakat
sekitar menjalankan serangkaian ritual dan acara yang memakan waktu hingga enam
hari.
Para
pemburu etnik yang datang di Toraja Utara sangat beruntung kali ini. Sebab,
batu raksasa tersebut di buka hanya untuk Ma’nene tiga tahun sekali.
Adalah
Thomas Randuan, 50, salah seorang warga yang membuka makam keluarganya pada
hari pertama. Hanya di buka, tidak langsung dikeluarkan.
Dalam
liang dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter itu, ada empat jenazah yang di
semayamkan. Dua orang tua serta dua saudaranya. Tidak semua akan di-Ma’nene-kan.
“Yang
sudah Ma’nene tiga tahun lalu biasanya masih bagus,” ucap Thomas. Atau yang
baru saja meninggal. Misalnya, sang kakak yang menghembuskan nafas terakhir
sebulan sebelum Ma’nane.
Warga
Tonga Riu di sekitar Lo’ko Mata telah sepakat untuk mengadakan Ma’nene tiga
tahun sekali. Namun, anatara satu lembang
(desa) dan yang lembang lain punya
waktu Ma’nene yang berbeda. Ada yang sat tahun sekali, ada pula yang baru
melaksanakan Ma’nene tiap setiap lima tahun.
Di Lo’ko’
Mata, waktu tiga tahun dirasa paling pas. Tidak terlalu sering seperti setahun
sekali, ada pula yang baru malaksanakan Ma’nene setiap lima tahun sehingga jenazah
beserta kainnya tidak keburu lapuk.
Tata
cara Ma’nene ala Tonga Riu sendiri mengikuti ajaran Kristiani. Rangkaian
Ma’nene di mulai dan di akhiri dengan ibadah di gereja. Setelah ibadah
pembukaan, keluarga baru di ijinkan membuka makam.
Mereka
bebas mengeluarkan jenazah dalam kurun waktu lima hari. Dan pada hari keenam, liang-liang
harus kembali di tutup sebelum ibadah penutupan.
Pada
hari terakhir Ma’nene, sebagian keluarga yang mampu bakal menyembelih kurban
berupa kerbau atau babi. Kerbau yang utama, babi sebagai pengganti saja.
Status
sosial keluarga, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, bisa
dilihat dari nilai kerbau yang di kurbankan. Satu kerbau paling murah sekitar
Rp 18 juta.
Ada
pula harga seekor kerbau mencapai miliaran rupiah. Mahal tidaknya kerbau
bergantung kepada keunikannya.
Kerbau
yang dikurbankan itu kemudian tidak di persembahkan ke almarhum keluarga.
Melainkan di makan bersama-sama orang satu kampung.
Menurut
kepercayaan warga Tonga Riu zaman dulu, daging kerbau itu harus dimakan di
tempat. Alias di rante (lahan tempat
menyembelih kerbau, tersusun dari batu-batu panjang sebagai tiang pancang)
sebelah makam batu.
“Tidak
boleh di bawa pulang. Sebab, nanti ada yang jatuh sakit,” ucap salah seorang
warga kelahiran Tonga Riu, rante rampa’.
Namun,
karena sekarang mereka lebih memercayai ajaran Kristen dari pada klenik,
Anggapan tersebut sirna.
Nah,
pada momen seperti inilah, Ma’nene menjadi sangat penting bukan hanya untuk
yang meninggal. Bagi anggota keluarga yang masih hidup pun, Ma’nene punya arti
tersendiri.
Keluarga
yang tinggalnya saling berjauhan pun bisa berkumpul. Warga satu kampung yang
tadinya jarang berkomunikasi bisa kembali bersua. Sebab, ketika Ma’nene, di
usahakan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mulai anak hingga cucu-cucunya.
“Dengan
anggota keluarga berkumpul, almarhum juaga akan merasa bahagia,” tutur rante.
Perempuan
yang merantau ke Makasar itu menuturkan, jika terpaksa, anggota keluarga bisa
saja tidak hadir. Tetapi, setidaknya harus ada yang mewakili. Entah itu
pasangannya atau anaknya. (Debora Danisa Sitanggang/c4/ttg)
Sumber: JP- 22 Oktober 2017
Diketik ulang oleh: ld


Tidak ada komentar:
Posting Komentar