Minggu, 28 Januari 2018

Keluarga Berkumpul, Almarhum pun Bahagia




MENDANDANI mayat. Merias mayat. Ada beberapa sebutan yang dikenal orang awam tentang ma’nene.


            Secara harfiah, ma’nane sendiri punya arti “merawat mayat”. Merawat dengan berbagai cara. Bisa dilakukan dengan pengganti kain pembungkusnya.  Atau dengan membersihkan jenazah yang tinggal tulang-belulang. Jika masih baik kondisinya, diangin-anginkan atau dijemurdi bawah terik matahari sudah cukup.

            Itulah cara-cara yang di lakukan masyarakat Toraja Utara untuk menyatakan kasih saying dan rasa hormatnya kepada keluarga yang telah meninggal dunia.

            Masyarakat Toraja memang dikenal sebagai kaum yang begitu menghargai jenazah. Bukan sebagai pengultusan. Melainkan sebagai ‘kenang-kenangan’ akan keluarga yang sudah kembali kea lam baka.

            Bagi warga Toraja, kematian bukanlah perpisahan abadi. Jiwa memang sudah tiada di dunia, namun masih ada raga yang tersisa. Dengan raga itulah, mereka mencurahkan kasih saying dan penghormatan bagi yang telah berpulang. Momen spesial itu punya nama Ma’nene.

            Diwilayah perkotaan Toraja Utara, Ma’nene jarang di lakukan. Yang masih melestarikan tradisi itu mereka yang berasal dari desa. Terutama yang berada di perbukitan. Sebab, disana masih ada banyak batu yang bisa digunakan sebagai makam. Nah, di Toraja Utara ada satu batu yang ikenal paling besar diantara batu-batu yang lain: Lo’ko’ Mata.

            Tahun ini Ma’nene di Lo’ko’ Mata kembali digelar. Liang-liang kubur di buka. Jenazah-jenazah  dikeluarkan. Masyarakat sekitar menjalankan serangkaian ritual dan acara yang memakan waktu hingga enam hari.

            Para pemburu etnik yang datang di Toraja Utara sangat beruntung kali ini. Sebab, batu raksasa tersebut di buka hanya untuk Ma’nene tiga tahun sekali.

            Adalah Thomas Randuan, 50, salah seorang warga yang membuka makam keluarganya pada hari pertama. Hanya di buka, tidak langsung dikeluarkan.

            Dalam liang dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter itu, ada empat jenazah yang di semayamkan. Dua orang tua serta dua saudaranya. Tidak semua akan di-Ma’nene-kan.

            “Yang sudah Ma’nene tiga tahun lalu biasanya masih bagus,” ucap Thomas. Atau yang baru saja meninggal. Misalnya, sang kakak yang menghembuskan nafas terakhir sebulan sebelum Ma’nane.

            Warga Tonga Riu di sekitar Lo’ko Mata telah sepakat untuk mengadakan Ma’nene tiga tahun sekali. Namun, anatara satu lembang (desa)  dan yang lembang lain punya waktu Ma’nene yang berbeda. Ada yang sat tahun sekali, ada pula yang baru melaksanakan  Ma’nene tiap  setiap lima tahun.

            Di Lo’ko’ Mata, waktu tiga tahun dirasa paling pas. Tidak terlalu sering seperti setahun sekali, ada pula yang baru malaksanakan Ma’nene setiap lima tahun sehingga jenazah beserta kainnya tidak keburu lapuk.

            Tata cara Ma’nene ala Tonga Riu sendiri mengikuti ajaran Kristiani. Rangkaian Ma’nene di mulai dan di akhiri dengan ibadah di gereja. Setelah ibadah pembukaan, keluarga baru di ijinkan membuka makam.

            Mereka bebas mengeluarkan jenazah dalam kurun waktu lima hari. Dan pada hari keenam, liang-liang harus kembali di tutup sebelum ibadah penutupan.

            Pada hari terakhir Ma’nene, sebagian keluarga yang mampu bakal menyembelih kurban berupa kerbau atau babi. Kerbau yang utama, babi sebagai pengganti saja.

            Status sosial keluarga, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, bisa dilihat dari nilai kerbau yang di kurbankan. Satu kerbau paling murah sekitar Rp 18 juta.

            Ada pula harga seekor kerbau mencapai miliaran rupiah. Mahal tidaknya kerbau bergantung  kepada  keunikannya.

            Kerbau yang dikurbankan itu kemudian tidak di persembahkan ke almarhum keluarga. Melainkan di makan bersama-sama orang satu kampung.

            Menurut kepercayaan warga Tonga Riu zaman dulu, daging kerbau itu harus dimakan di tempat. Alias di rante (lahan tempat menyembelih kerbau, tersusun dari batu-batu panjang sebagai tiang pancang) sebelah makam batu.

            “Tidak boleh di bawa pulang. Sebab, nanti ada yang jatuh sakit,” ucap salah seorang warga kelahiran Tonga Riu, rante rampa’.

            Namun, karena sekarang mereka lebih memercayai ajaran Kristen dari pada klenik, Anggapan tersebut sirna.

            Nah, pada momen seperti inilah, Ma’nene menjadi sangat penting bukan hanya untuk yang meninggal. Bagi anggota keluarga yang masih hidup pun, Ma’nene punya arti tersendiri.

            Keluarga yang tinggalnya saling berjauhan pun bisa berkumpul. Warga satu kampung yang tadinya jarang berkomunikasi bisa kembali bersua. Sebab, ketika Ma’nene, di usahakan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mulai anak hingga cucu-cucunya.

            “Dengan anggota keluarga berkumpul, almarhum juaga akan merasa bahagia,” tutur rante.

            Perempuan yang merantau ke Makasar itu menuturkan, jika terpaksa, anggota keluarga bisa saja tidak hadir. Tetapi, setidaknya harus ada yang mewakili. Entah itu pasangannya atau anaknya. (Debora Danisa Sitanggang/c4/ttg)

Sumber: JP- 22 Oktober 2017
Diketik ulang oleh: ld

Tidak ada komentar:

Posting Komentar